Tarian untuk Pendamping Korban

Perempuan Berbagi, sebagai perkumpulan relawan yang bekerja untuk pemulihan korban kekerasan, berupaya memberikan perhatian pada keberlangsungan para pendamping. Pendamping yang telah memberikan hati, pikiran dan dukungan lain untuk menemani korban yang berjuang sintas dari situasi kekerasan. Kerja-kerja memberikan konseling dan bantuan hukum untuk korban, pada situasi tertentu dapat menimbulkan kelelahan mental. Kelelahan mental bersumber antara lain dari interaksi pendamping dengan segala dampak kekerasan yang dialami korban. Kelelahan mental dapat bersumber juga dari gangguan kenyamanan dan keamanan. Pada situasi tertentu proses pendampingan dapat membahayakan korban dan pendamping secara bersamaan. Terutama bila menangani kasus-kasus yang pelakunya tidak kooperatif dan menggunakan kekuatan-kekuasaan untuk mengganggu upaya keadilan dan pemulihan yang ingin diraih korban.

Untuk itu, pilihan bekerja menjadi pendamping penting diikuti dengan kesadaran pengelolaan resiko tersebut. Banyak cara untuk mengelola resiko, dari mulai peningkatan pengetahuan dan keterampilan pendampingan korban yang berkelanjutan. Memperluas jaringan kerja dan dukungan. Membangun mekanisme panduan kemanan. Meningkatkan keterampilan keamanan digital, terutama bila kerja-kerja pembelaan korban juga menggunakan internet.
Memperkaya ragam pendekatan tersebut, Perempuan Berbagi juga mengenalkan dasar-dasar DMT (Dance Movement Therapy) untuk perawatan mental pendamping.  Terapi ini mendasarkan pada keyakinan bahwa tubuh, pikiran dan jiwa saling berhubungan. Dalam keadaan mental yang lelah, tidak aman dan gangguan lainnya, keterhubungan itu dapat terputus. Yang berakibat pada penurunan kesehatan mental dan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama. Padahal kemampuan kerja sama dengan sebanyak-banyaknya pihak, kunci dari keberhasilan pendampingan.  Juga tidak mungkin seseorang dapat memberikan dukungan optimal pada korban, bila ia sendiri tidak mampu mengelola kesehatan mentalnya.  Lebih dari itu, harga kesejahteraan pendamping sama berharganya dengan setiap manusia manapun. Pendamping harus menjalani hidup bermartabat dengan harga diri yang sehat. Pemberdayaan dan integritas tersebut dapat dicapai antara lain melalui DMT.
The American Dance Therapy Association memaknai DMT sebagai penggunaan psikoterapi gerakan  untuk mengitegrasikan emosi, kognitif, sosial dan fisik individu. Tim Perempuan Berbagi mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dasar DMT melalui kursus intensif selama lima hari bersama Kolkata Sanved yang difasilitasi oleh GAATW (Global Alliance Against Traffict in Women) (http://www.gaatw.org/).  Kolkata Sanved adalah organisasi kemanusiaan berbasis di Kalkuta, India, yang melatih gerak dan tari untuk korban trafiking, eksploitasi dan pelecehan seksual yang agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan yang bermartabat (http://www.kolkatasanved.org/). Perempuan Berbagi memilih mengkreasi DMT untuk pendamping bukan untuk korban, karena masih minimnya kesadaran self care di tingkat individu pendamping dan lemahnya sistem care for care giver, pemulihan mental di tingkat orgaisasi dan perlindungan hukum untuk pembela HAM di tingkat kebijakan negara.
Dasar-dasar DMT ini akan memperkenalkan beberapa aspek sebagai berikut:
Pengenalan kekuatan tubuh dengan tiga gerakan utama, antara lain dapat diasosiasikan dengan pohon yang sehat. Melalui tiga gerakan utama: ground movement yaitu kekuatan pada gerakan kaki; center movement, kekuatan yang berpusat pada bagian perut-pinggang;  dan king movement, kendali gerakan pada bagian kepala dan tangan.  Semangat dari tiga gerakan ini untuk memulihkan keutuhan integritas individu setiap manusia.
Selanjutnya peserta akan dikenalkan pada pengenalan diri: bagaimana memahami safe un safe (apa yang membuat dirinya aman dan tidak aman). Juga bagaimana membangun border (batasan-batasan sesuai kehendak setiap individu) untuk melatih menjaga kedaulatan diri dan mengendalikan situasi bukan dikendalikan situasi.
Peserta juga dikenalkan dengan keterampilan connected (mengelola keterhubungan tubuh dan pikiran). Bagaimana melatih gerakan di satu sisi dapat menujukan eksistensi diri, pada saat bersama peka, terhubung dapat bekerja sama dengan lingkungan.
Selanjutnya menjahit semua keterampilan tersebut untuk terapi self care (merawat diri), pemulihan menuju transformasi sosial. Seluruh pengenalan gerak dan tari  ini dijalankan-disesuaikan dengan kekhususan-unik-ragam kondisi peserta. Memperhatikan keragaman kemampuan dan kebiasaan berdasarkan antara lain kondisi kesehatan, umur, jender dan keyakinan. Adapun prinsip-prinsipnya antara lain, bahwa setiap orang memiliki gerakannya sendiri (penghormatan pada pengalaman otentik setiap individu), saling menghormati, tidak membedakan, tidak menghakimi, tidak melecehkan. Dan mengembangkan sikap peduli, peka dan saling dukung selama gerak dan tari berlangsung.
Tips teknis selama menari, gunakan pakaian yang longgar dan menyerap keringat. Model celana panjang akan mempermudah gerakan. Lepaskan ikatan yang dapat menganggu peredaran darah dan kenyamanan  bergerak, seperti kaca mata, jam tangan, gelang, kalung, ikat pinggang, ikat rambut dll.
Berdasarkan pengalaman Perempuan Berbagi, keterampilan DMT dapat dipelajari sedikitnya melalui 5 kali pertemuan tatap muka. Untuk mempelajari dari tahap pengenalan konsep, praktik, hingga menyusun rencana untuk mengembangkan sendiri atau bersama kelompok.[]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *