Sumbangan Studi Agama untuk Perdamaian, Mungkinkah?

Mampukah kita meninggalkan semangat pembenaran atas nama agama ke pencarian sejati dekontruksi beragama yang mampu menjawab soal-soal kemanusiaan & kelestarian alam raya? 

Tafsiran dan praktik beragama menjadi satu dari ragam basis konflik dalam  peradaban manusia. Tafsir dan praktik “jiwa”  beragama yang hierakis, ekspansif, biner dan kebenaran yang terbenar agamanya sendiri menjadi bahan yang lebih dari cukup untuk menimbulkan konflik. Yang tak jarang dilengkapi doktrin pembenaran untuk melakukan perampasan kemerdekaan, kekerasan kepada sesama manusia dan penguasaan-eksploitasi alam raya. Kehadiran sekolah yang menggali gagasan-gagasan perdamaian bersumber dari agama/keyakinan  seperti ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) menantang pikiranku berulang-ulang. Aku berasumsi, setiap orang sekolah di ICRP, sedikitnya punya keterbukaan pikiran dan hati untuk berani mengunjungi-mengkritik agama/keyakinannya sendiri. Sekaligus mengunjungi-mengkritik agama/keyakinan lain sambil mensucikan dari tendensi agama/keyakinanku lebih baik dari semua agama/keyakinan yang pernah,  sedang dan akan ada. Bagaimana membangun kerelaan dan kerendahan hati seperti itu? Sehingga agama/keyakinan dan menjadi pengikut agama/keyakinan tertentu memungkinkan menjadi satu dari banyak cara untuk mengkreasi bumi yang damai dan lestari.

Sebagai warga Indonesia yang pemerintahnya senang melembagakan agama –antara lain melalui Qanun Syariat Islam, Surat Keputusan Bersama, dll— dan masyarakatnya yang melihat agama sebagai rujukan hidup yang super, aku berterima kasih kepada ICRP. Karena ICRP membuka sekolah perdamaian bersumber dari agama/keyakinan. Bagaimanapun, kita perlu berbicara, menyampaikan pikiran-pikiran damai dengan bahasa agama kepada negara dan masyarakat beragama. Berterima kasih juga aku diterima menjadi peserta sekolah sehingga mengakses kemewahan dialog pikir dengan teman sekelas dari ragam agama/keyakinan yang sama-sama mempercayai perdamaian itu sungguh penting. Tantangannya pasti tidak mudah, karena praktik agama selalu bermuka dua –wajah kekerasan-dominasi dan wajah welas asih-perdamaian. Tetapi itu sesuatu yang akan selalu begitu untuk setiap kontruksi manusia. Bukankah agama cara manusia mengkontruksi-menjangkau penciptanya dan merumus-praktikan tata laksana hubungan dia dengan penciptanya dan dia dengan alam raya? Dengan begitu, kabar baiknya, sejahat-jahatnya tafsir-praktik beragama, sebagai kontruksi ia bisa didekontruksi menjadi sesuatu yang menyumbang pada perdamaian.  Dengan nama Allah  yang maha pengasih dan penyayang…

Gelisah-gairahku itu berjumpa dengan kelas bertajuk “Pengantar Urgensi Studi Agama dan Perdamaian,” pada 22 Mei 2015 di kantor ICRP, Jakarta. Di kelas pertama itu, Syafiq Hasyim, Dr Phil membantu peserta dengan menyampaikan konteks kelahiran studi agama dan kaitannya dengan perdamaian.  Syafiq membedakan studi agama dengan kakak kandungnya studi teologi. Merujuk konteks di Jerman, studi teologi mempelajari agamanya sendiri. Di Eropa,  fakultas/ departemen teologi mengajarkan khusus teologi Katolik atau Protestan. Di Indonesia, misalnya UIN (Universitas Islam Negeri) menyediakan studi perbandingan agama, tetapi Islam dijadikan alat ukur untuk melihat agama lain. Sedangkan studi agama memposisikan agama sebagai ilmu yang menyoal perjuangan manusia menuju transendensi karena itu letaknya di bidang humaniora. Syafiq mengutip pikirannya Joachim Wach yang mengklaim religious studies sebagai disiplin independen. Sejak 1924, dia membuat garis batas tegas antara teologi dan ilmu agama (science of religion, Religionswissenschaft). Dipengaruhi Max Weber, ilmu tentang empirical science dia menempatkan ilmu agama sebagai ilmu yang melihat fenomena agama atau bagian agama yang empiris. Dia mengkritik Madzhab Sejarah Agama yang lebih menekankan pada Kekristenan dan melokalisasi sejarah agama ke dalam teologi. Wach menyatakan religious studies harus netral, tidak berposisi dan tidak normatif. Metodologi religious studies harus berjarak, termasuk pada sikap keberagamaan yang dianutnya dengan hal yang ditelitinya. Menyimak penjelasan Syafiq aku berpikir bila yang dimaksud studi agama oleh ICRP itu memang bukan studi teologi, kemungkinan sekolah ini sebagai satu alternatif untuk membangun hidup damai bersama akan lebih besar.

Tetapi seberapa mampu netral studi agama ini untuk menyokong perdamaian? Tanya peserta kepada Syafiq. Syafiq menunjukan pengalamannya yang berlatarbelakang NU (Nahdlatul Ulama) dan mampu melakukan riset yang mengkritik NU. “Bagaimana kita bisa membedakan siapa diri kita dan apa yang sedang kita kaji. Mampu mentransedensikan apa yang ada dalam diri kita dan apa yang kita kaji. Walaupun tidak mampu netral 100 %, paling tidak objektifikasi melalui apa yang kita kaji,” kata Syafiq.  Menurutnya dalam masyarakat Islam sedari dulu sudah ada para pemikir traveller yang melakukan kajian dan menuliskan perbandingan antara agama Islam dan agama lain. Dan seperti hari ini mereka terbagi 2: (1) pengkaji netral-berjarak dengan kerangka ilmu dan (2) kerangka teologi yang tak jarang menulis hasil kajian untuk meninggikan Islam dan merendahkan agama/keyakinan lain. Menurutku dari jenis pemikir dan buku yang dihasilkan kita akan mengerti, buku yang mana yang lebih banyak membawa kepada jalan damai.

Tapi sebenarnya seberapa tafsiran-praktik beragama/berkeyakinan menyumbang pada perdamaian? Pdt Dr. Nelman A. Weny membantu peserta untuk melihat beragama pada konteks kini. Sebuah realitas satu bumi banyak agama/keyakinan. Dalam pandangannya, agama kini dalam posisi dilematis. Diantara ketegangan kreatif, krisis relevansi dan krisis identitas. Semakin agama-agama berusaha merelevankan ajarannya dengan dunia yang terus berubah, agama-agama akan kehilangan identitasnya. Sebaliknya, semakin agama-agama mempertahankan identitas dan doktrinnya, agama-agama semakin tidak relevan dengan tuntutan kebutuhan dunia modern. Akibatnya, lambat atau cepat, agama ditinggalkan para penganutnya.  Menurut tangkapanku, rupanya kesulitan-kegagalan mengelola dinamika tafsir-praktik beragama/berkeyakinan itu yang membuat wajah agama sebagai kekerasan-dominan memburuk dan kehilangan penggemar. Belum lagi menurut pendapatku penggunaan agama untuk penguasaan manusia dan sumber daya alam seperti sejak zaman kolonial hingga kini –pinjaman bank untuk umroh yang kalau tak hati-hati bisa mengakibatkan pengalihan kepemilikan tanah peminjam kepada pihak bank syariah. Semoga kajian agama-perdamaian versus global economy-security akan menjadi satu kajian di kelas ICRP selanjutnya.

Pdt Nelman juga mengutif gagasan Azyumardi Azra yang mengidentifikasi 5  penyebab kekerasan atas nama agama di Indonesia: (1)  penerbitan/penyebaran tulisan-tulisan oleh pihak/kalangan agama tertentu tentang agama lain yang dianggap para pemeluknya tidak sesuai dengan yang mereka imani, dan karena itu, dianggap mencemarkan agama mereka. Dalam hal ini juga, tercakup tulisan-tulisan (sering sumbernya tidak jelas) yang berisi “rencana” penyebaran agama tertentu; (2) usaha penyebaran agama secara agresif/masif; (3) penggunaan rumah (tempat) tinggal sebagai tempat ibadah bersama atau pembangunan rumah ibadah di lingkungan masyarakat penganutagama lain; (4)  penetapan dan implementasi ketentuan yang dinilai diskriminatif dan membatasi penyebaran agama tertentu; (5) kecurigaan timbal-balik berkenaan dengan posisi serta peran agama-agama dalam negara bangsa Indonesia (Aritonang 2004, 15-16).  Yang menurut Pdt Nelman dipicu 3 realitas: Pertama, terbukanya keran demokrasi yang dikenal dengan nama Era Reformasi 1998. Kedua, desentralisasi yang disalahartikan sebagai kebebasan pemerintah daerah menciptakan kebijakan publik yang berbeda dari pusat. Ketiga, semakin meluasnya ketidakadilan sosial yang dibaca sebagai kegagalan pemerintah sekuler (yang menganut demokrasi ala Barat) sehingga memperkuat aspirasi mendirikan negara Islam (Mulia 2013, 165 dst.; Yewangoe 2013, 207-212).

Karena itu, menurut Pdt Nelman, dalam hidup bernegara kita membutuhkan pejabat publik matang beragama. Peserta lain menyebutnya sebagai spiritual tanpa batas. “Yesus tidak pernah mengkotak-kotakan siapa yang harus ditolong dan dicinta dan kita ada di satu bumi yang diberkati banyak agama,” tutur Pdt Nelman. Selain itu, menurutku, organisasi agama juga harus lebih berani mengambil peran-berpihak untuk mempertahankan perdamaian – merawat sumber daya untuk sebanyak-banyaknya orang. Sebagaimana sikap Pengurus Besar NU yang menyerukan Pemprov Jawa Tengah menghentikan PT Semen Indonesia dan perusahaan-perusahaan tambang lain di Rembang, baru-baru ini.

Jadi  seberapa urgen studi agama ini menyumbang perdamaian? Syafiq memberikan 5 catatan: (1) studi agama memberi masukan untuk melihat secara jernih mana aspek sakral dan non-sakral dalam agama; (2) studi agama membuka cakrawala agama dan sekaligus menanamkan self-criticism pada diri kita masing-masing tentang ajaran agama kita sendiri; (3) perbandingan teologi (comparative theology) yang sebelumnya dijadikan jembatan untuk menanamkan kesalingpengertian antara agama/keyakinan ternyata dianggap gagal karena perspektif metodologisnya masih bersifat eklusif; (4) studi perdamaian menjadi sangat penting, bukan karena karena banyaknya konflik dan kekerasan yang terjadi, akan tetapi untuk kepentingan kematangan disiplin ini sendiri; (5) secara practical, studi perdamaian akan membantu memetakan, mengurai dan mencarikan jalan keluar soal potensi kekerasan dan kekerasan itu sendiri. Model kekerasan yang semakin variatif dan diverse, karena itu  peace studies diharapkan mampu menjawab tantangan ini. Catatannya secara karakter, peace studies berbeda dengan religious studies dimana yang kedua itu lebih banyak dipicu kematangannya oleh perdebatan-perdebatan diskursif, yang pertama dipicu oleh peristiwa-peristiwa kekerasan.
Kelas pertama ini juga diwarnai kerinduan peserta untuk mengkaji agama asli nusantara, selain Kristen, Katolik dan Islam sebagai agama impor yang saat ini dominan di Indonesia. Termasuk di dalamnya harapan nilai-nilai kedamaian dari agama/keyakinan nusantara. Nah, marilah kita lanjutkan belajar bersama ini. Semoga dekontruksi beragama/berkeyakinan yang menyumbang perdamaian di bumi lebih lapang jalannya.

Dewi Nova (Peserta Studi Agama dan Perdamaian ICRP 2015)

Tulisan ini adalah refleksi dari Studi Agama dan Perdamaian pertemuan ke-1 yang dilaksanakan ICRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *