Burung Hantu di Kebun Teh Nissa

Terakhir kali aku melihat burung hantu, waktu berumur 12 tahun. Saat itu teman-teman satu grup pramuka memintaku menjadi pesakitan, sehingga aku berbaring di blankar yang terbuat dari tali dan tongkat. Di atas rumput jarum, di halaman sekolah, kurasakan sejuk ke tubuhku dan saat kubuka mata,  persis di hadapanku dinding aula. Di sela atapnya, kulihat burung hantu dengan tiga anaknya. Matanya bundar mengarah padaku seolah-olah memintaku merahasiakan temuanku. Setelah itu, lama aku melupakannya, hingga Teh Nissa membicarakan pentingnya kehadiran burung hantu di 7500 m2 lahan yang ia dan suaminya kembangkan menjadi pesantren ekologi.

Menurut Teh Nissa burung hantu dan ular membantu untuk menyeimbangkan populasi tikus. Karena itu mereka perlu menyiapkan ruang hidup sang pemangsa tikus. Teh Nissa bersama suami dan 15 anak di pesantren itu juga menanam semak agar ular betah hidup. Dari tanaman semak itu juga anak-anak belajar membuat berbagai teh, antara lain teh pegagan. Hingga mereka bisa membuat 18 macam teh ‘semak’ yang memberikan manfaat sebagai obat herbal. “Kadal dan jangkrik juga harus hidup di kebun kami,” tambah Teh Nissa. Keseimbangan ekosistem itu, menjadi perhatian, karena para penyayang bumi itu tidak mau melukai tanaman dengan  cemaran pestisida. Biarlah alam yang merawat. Hasilnya, mereka dapat memanen 1 ton gabah yang lebih dari cukup untuk mereka konsumsi. Teh Nissa juga mempraktikan warisan  pengetahuan dari  nenek dan ibunya, yaitu menanam kenikir dan tai kotok di pinggiran sawah guna melindungi tanaman padi. Terkenang aku pada sekolah permakultur di sebuah kebun dekat Ubud, “bau yang kuat, warna kuning yang  cerah sangat disukai serangga dan akan mengalihkan perhatian mereka dari tanaman yang perlu kita lindungi,” kata guruku yang juga perempuan.

Burung hantu saja tidak cukup, manusia butuh hidup bersama dengan  burung-burung yang lain. Burung-burung akan membawa benih tanaman yang terbaik. Karena itu, pesantren ekologi ini juga menanam pohon untuk mengundang burung-burung tinggal.  Benih yang baik menjadi perhatian, karena pemenuhan gizi dan nutrisi diutamakan di pesantren ini. Mereka mengumpulkan benih-benih lokal untuk dirawat dan dikonsumsi. Lebih  baik mengkonsumsi sayuran yang tidak populer seperti pegagan dan jantung pisang, dari pada membeli sayuran populer yang sudah mengalami rekayasa genetik. Selain sayuran, pesantren ini juga menanam tanaman bumbu. Hanya garam dan minyak kelapa   yang belum dapat mereka penuhi sendiri.  Sementara untuk mengganti gas untuk memasak, mereka sedang mempersiapkan bio gas dari pengolahan kotoran ternak. Pesantren ini juga mengajarkan anak-anak ragam sumber energi selain beras. “Kami juga menggunakan karbohidrat lain  pengganti beras, seperti pisang muda,  nasi jagung yang menyimpan energi lebih lama,  sukun dan talas hitam yang lezat seperti ketan,” tutur Teh Nissa.

Selain untuk menghasilkan  pangan yang sehat, pesantren ekologi ini bertekad mengembalikan tradisi petani yang memproduksi benih sendiri dan menanam ragam tanaman untuk pemenuhan sendiri. Pemulihan praktik itu berkat refleksi Teh Nissa atas paparan revolusi hijau yang memperkenalan petani pada pupuk dan pembasmi hama kimia dan ketergantungan benih pada pedagang tamak seperti  Monsato. Juga cara bertanam satu jenis akibat tergoda mengejar keuntungan yang disetir negara. Sementara untuk kebutuhan pangan sehari-hari petani harus membeli ke pasar. Penjelasan Teh Nissa itu mengingatkan pada refleksi para ibu di wilayah perkebunan Sawit di Rantau Prapat, Sumatera Utara. Setelah perkebunan sawit menggoda mereka untuk cepat kaya, mereka tak lagi punya sawah. Mereka harus pergi ke pasar untuk membeli beras juga sayuran. Karena, kampung dan kebun yang sudah tercemar pestisida untuk sawit tak dapat lagi ditanami sayur. Bahkan ternak mereka tak sudi lagi makan rumput di kampungnya. Mereka harus membawa jalan ternak ke desa yang belum ada perkebunan sawit untuk mendapatkan rumput yang sehat.

Pesantren yang berlokasi di Garut, Jawa Barat ini  tumbuh sejak 2008. Lahir dari refleksi Teh Nissa bertahun-tahun  mengorganisasi petani di Serikat Tani Pasundan untuk memperjuangkan hak-haknya. Sampai ia menemukan jalan untuk berhenti ‘berperang’ dan menjadi petani yang sayang bumi. Sambil mempersiapkan generasi sayang bumi melalui pendekatan pesantren. Anak-anak yang setiap hari memahami dan mempraktikan cara membuat benih, merawat tanaman –menghilangkan virus, mengusir serangga—dan mengolah tanaman, kelak akan memperkuat-memperbanyak manusia-manusia yang akan memulihkan bumi yang satu.

Paparan ini, Teh Nissa Wargadipura sampaikan pada diskusi publik “Mendorong Kepemimpinan Perempuan Mengurus Krisis Sosial Ekologi di Nusantara” diselenggarakan Sajogyo Institut, Program Studi Gender dan Paska Sarjana UI, Selasa, 23 Juni 2015.  Diskusi juga menghadirkan empat puan perawat bumi yang lain: Eva Bende, pejuang agraria Sulawesi Tengah; Aleta Baun, perawat gunung marmer Mollo, NTT; Opung Putra, perawat gunung kemenyan di Sumatera Utara dan Gunarti, Sedulur Sikep perawat pegunungan Kendeng Jawa Tengah.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *