Jangan Diam!

Pagi itu, rasanya tidak pernah bermimpi akan mengalami kejadian yang sangat menggemparkan buat saya. Rabu, 24 Juni 2015, saya sedang janjian dengan seorang teman di Kalibata City untuk mengerjakan sebuah pekerjaan yang semestinya deadline dalam minggu ini. Bahan-bahan pekerjaan, notebook, sudah saya siapkan sejak malam untuk dibawa serta. Seperti biasa, saya selalu mengabarkan teman saya sebutlah Rina, ketika saya sudah turun dari stasiun kereta di Kalibata, agar dia bersiap ke bawah untuk menjemput saya, karena untuk menuju ke lantai atas harus menggunakan kartu access. Tepat pukul 9.30, saya sudah berada di depan koridor lift dan menelpon Rina untuk segera ke bawah. Pada saat yang sama, saya perhatikan juga ada seorang laki-laki dengan perawakan Arab yang berdiri dibelakang kiri saya berjarak ± 1 meter, sepertinya juga sedang menunggu seseorang. Situasi saat itu di koridor depan lift memang tidak ada siapa-siapa lagi kecuali laki-laki itu dan saya.

Saat itu saya tidak punya pikiran buruk terhadap orang asing ini, karena hari sudah siang dan di lobby pun juga cukup ramai. Sambil menunggu Rina turun, saya melihat-lihat hp dan membaca Bbm yang masuk. Tiba-tiba saya merasa ada yang menyentuh pantat saya, reflek saya tengok kebelakang, laki-laki itu seperti sedang mencari-cari sesuatu dalam tas selempangnya dia dan pura-pura tidak melihat saya. Saya juga mengira, mungkin bagian belakang saya menyentuh sesuatu karena saat itu saya juga memakai tas ransel dan di belakang saya juga ada tanaman hias walau jaraknya cukup jauh dari tempat saya berdiri. Kemudian saya maju dua langkah untuk lebih menjauh, namun tidak lama kemudian saya merasa pantat saya ada yang menyentuh lagi. Reflek saya langsung berbalik dan mencurigai kalau laki-laki inilah penyebabnya karena memang tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dia.

Saya marah sekali dan langsung bersikap tegas menanyakan padanya dengan cukup keras, “ANDA NGAPAIN YA..!”, tetapi malah dijawab dengan senyuman yang melecehkan dan bagi saya juga itu sangat menjijikan. Saya semakin marah terhadap laki-laki ini, saya katakan lagi, “NGAPAIN COLEK-COLEK SAYA..!!”,  .. kemudian dia mengelak sambil mengatakan dalam bahasa Inggris campur bahasa Arab yang intinya dia ga mencolek saya, tetapi sedang memeriksa tasnya. Kemudian saya jawab lagi, “ADA CCTV…!! SAYA LAPORKAN ANDA KE SECURITY..”,  segera saya pencet tombol pintu untuk keluar, karena feeling saya sangat tidak aman ditempat tersebut dan tidak ada siapa-siapa pula. Kemudian saya berlari menuju security yang berada di lobby, dan saya katakan pada mereka, bahwa laki-laki itu melakukan pelecehan seksual terhadap saya.

Terjadilah keributan di lobby dan banyak orang yang melihat, pelaku berusaha mengatakan salah dan dia hanya memeriksa tasnya. Kebetulan disana ada dua orang petugas keamanan, 1 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Saya katakan pada petugas, untuk melacak orang ini akan menemui siapa dan saya minta orang yang akan ditemui untuk kebawah. Ternyata pelaku ini juga tidak jelas akan menemui siapa, ketika ditanya petugaspun berbelit-belit, dan mencoba menelpon untuk menghubungi seseorang. Berkali-kali pelaku mencoba mengatakan pada saya bahwa itu salah paham saja, saya tidak gubris sedikitpun, tetap akan saya laporkan ke pos security Kalibata City. “Masya Alloh.. madam.. please forgive me.. this Ramadhan…”, kalimat itu saja yang dia ucapkan terus menerus dihadapan saya. “ ga peduli..lo tetep gw laporin ke petugas keamanan..” jawab saya.

Kemudian petugas memberikan telepon ke saya karena ada seseorang yang mau bicara dengan saya. Dalam percakapan tersebut, ada seorang yang bernama Ira dan mengaku temannya pelaku yang menyewa unit tempat dia tinggal, tetapi ujung-ujungnya dia meminta saya untuk memaafkan pelaku dan ga perlu diperpanjang lagi, karena dia sendiri tidak mau berurusan dengan banyak pihak.  Woow…. Saya jawab dong, “saya tidak ada urusan dengan anda, urusan saya dengan pelaku”, kemudian langsung saya kasih HP itu ke petugas dan saya ga mau terima teleponnya. Selanjutnya karena saya bersikeras tetap akan melaporkan pelaku ke pos keamanan, agar pihak pengelola tahu ada kejadian seperti ini dan dapat ditindaklanjuti system keamanan wilayah tersebut, maka dibawalah kami menuju pos keamanan yang berada di basement.

Aku, Rina, bersama petugas keamanan perempuan dan pelaku berjalan menuju pos keamanan yang jaraknya sebetulnya tidak terlalu jauh, tetapi karena itu areal terbuka dan parkiran maka saya mulai curiga pasti ada kesempatan pelaku untuk kabur dan ternyata yahhh benar… pelaku mulai melipir berjalan menuju parkiran mobil dan kemudian berlari kabur. Saya langsung teriak dan kita semua berlari mengejar pelaku sambil saya teriakin, “MALIIINGGG…  TANGKAP ORANG ITU…”, karena kehebohan tersebut dan menjadi pusat perhatian, langsung dengan sigap petugas mengejar dan saling menghubungi lewat handy talky. Karena larinya cepat sekali dan saya juga tidak bisa mengejarnya, saya pikir lolos sudah pelaku kejahatan ini. Ehh tidak lama kemudian dari kejauhan, serombongan petugas keamanan berhasil menangkap pelaku dan digiring ke pos keamanan. Alhamdulillah, akhirnya tertangkap juga, geram banget saya liat pelaku… dalam hati saya katakan “lo…tidak akan lolos dari gw”.

Sesampai dipos keamanan, langsung ditanyai oleh kordinator keamanan dan saya menceritakan sedikit kejadian tadi. Tetapi rupanya petugas juga mencurigai pelaku, karena dua hari yang lalu ada laporan serupa yang mengalami pelecehan seksual tetapi di tempat yang berbeda, namun pelaku yang dicurigai itu hanya sedikit terekam di CCTV.  Kemudian dicek rekaman CCTV pada kejadian tanggal 22 Juni, malam dan terlihat memang walau samar sosoknya mirip pelaku yang berusaha memeluk seseorang perempuan di depan lift, ketika petugas menyodorkan CCTV tersebut pelaku sempat mengelak. Selanjutnya petugas mencoba menghubungi pelapor pertama untuk dapat dipertemukan oleh pelaku. Semakin geramlah ketika saya juga membaca kejadian laporan pertama dan melihat rekaman CCTV tersebut, korbannya masih muda, seorang mahasiswi masih berusia 19 tahun satu hal lagi.. dia memakai jilbab. Jadi… ga ada yaaahh itu yang bilang korban pelecehan seksual dilihat hanya cara berpakaiannya saja… -Kelaut aja orang yang punya pikiran kaya gitu..- Benar-benar makin marah saya lihat pelaku ini, saya tidak akan diam liat perlakuannya pada korban yang pertama. Dan berharap pula bahwa benar kejadian pertama ini adalah pelaku yang sama.

Tidak lama kemudian serombongan keluarga datang dan mereka adalah keluarga korban yang melaporkan kasusnya ini. Kemudian petugas keamanan meminta korban untuk melihat pelaku apakah benar dia pelakunya. BINGGGGOOOO…!!! Ya benar… itu jawab korban. Mau tahu apa yang terjadi dengan pelaku saat ketemu korban,… langsung pasang muka sedih dan menangis… . Ibu korban langsung menghampiri pelaku dan menanyakan sesuatu ke pelaku, tiba-tiba…”PLAAAKKK…” sebuah tamparan mendarat dengan manis di pipi pelaku dilakukan oleh ibu korban. Ouupss..!! sakittt… iyalahh, duhh kenapa tadi dari awal saya ga kepikiran buat nampar atau nonjok dia yahhhh …. Biar tambah sakitnya.. ehh tapi ga boleh melakukan kekerasan lagi. Stop.

Selanjutnya kami sepakat untuk melaporkan pelaku ke Imigrasi Jakarta Selatan, karena ternyata pelaku berasal dari IRAK dan dibawah naungan UNHCR sebagai pencari suaka. Kemudian, kami semua pergi ke Imigrasi Jakarta selatan, saya satu mobil dengan keluarga korban dan pelaku 1 mobil dengan petugas keamanan gedung. Sesampai di kantor Imigrasi kami langsung ke lantai 5, menemui dua orang petugas Imigrasi sayangnya saya lupa nama keduanya. Namun dari mereka, kami diarahkan untuk lapor ke POLDA Metro, karena menurutnya kasus ini tidak bisa diproses di Imigrasi karena tidak terkait dengan keimigrasian tetapi karena ini kasus pelecehan seksual. Selanjutnya kami segera meluncur ke Polda Metro.

Di Polda, kami langsung ke Unit PPA, untuk didengarkan penjelasannya. Dari pihak UPPA, karena kasus kami tidak ada saksi pada saat kejadian, maka pelaporan kasusnya hanya 1 saja. Artinya karena korban pertama kasusnya lebih berat maka dia dijadikan pelapor utama sementara saya dijadikan saksi korban karena saya menjadi korban oleh pelaku yang sama. Kemudian, korban pertama dibawa oleh petugas kepolisian ke bagian SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) untuk diambil keterangannya, sementara saya menunggu diruang tunggu. Sekitar 30 menit kemudian, kami dibawa lagi ke gedung Unit Renata. Disana baru BAP berjalan, kasus kami dikenankan pasal 289 KUHP Pelecehan Seksual. Pihak kepolisian juga meminta rekaman CCTV kepada petugas pengelola gedung.

Dalam proses BAP tersebut saya melihat ada keraguan pada pihak Kepolisian untuk mengangkat kasus Pelecehan Seksual ini, karena pelaku WNA dan dibawah naungan UNHCR. Ketika salah seorang polisi menghubungi UNHCR untuk meng- cross check tentang identitas pelaku dan mengatakan UNHCR menyerahkan semuanya pada hukum yang berlaku di Indonesia. Pertimbangannya setelah proses BAP selesai, pihak kepolisian akan membuat surat ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan untuk menyerahkan pelaku.

Saya menduga, kasus ini masih tetap sulit untuk diproses secara hukum sebelum pelaku di deportasi. Bedug Magrib berbunyi berbarengan dengan proses BAP selesai. Saya membatalkan puasa dengan seteguk teh manis, dan tiba-tiba, pelaku mendatangi saya kemudian  bersimpuh serta mengatakan, “madam, this Ramadhan, Alloh give you Rahmatan lil alamin.. please forgive me.. “ .. aku melihat sebentar ke pelaku dan kemudian berdiri keluar.

Saya memaafkan tapi tidak pernah akan mencabut laporan ini karena siapa tahu mungkin masih banyak korban yang lain tetapi tidak berani melaporkan. Magrib telah tiba … saya menuju Masjid.

#Buat korban-korban yang berani berteriak …. JANGAN DIAM….

Jakarta, 25 Juni 2015
Penulis: EVIE PERMATA SARI

Pekerja Kemanusiaan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *