Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan

Siaran Pers Jaringan Kerja 16 Hari Penuh Cinta
Agenda Kampanye 16 Hari Penuh Cinta Kota Tangsel, Banten
(25 November – 10 Desember 2015)
“Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan”
Kampanye 16 Hari Penuh Cinta merupakan pengembangan dari kampanye global 16 Hari Aktivisme Menentang Kekerasan Berbasis Gender. Kampanye dimulai dari 25 November –hari internasional anti kekerasan terhadap perempuan– sampai 10 Desember –hari HAM sedunia (16 hari). Tanggal tersebut dipilih untuk menekankan bahwa kekerasan berbasis gender adalah pelanggaran hak asasi manusia. Periode 16-hari ini juga menyoroti tanggal penting lainnya yaitu 29 November hari Internasional Perempuan Pembela HAM dan 1 Desember, Hari AIDS Sedunia. Kampanye ini ditujukan untuk percepatan pencegahan dan penanggulangan penghapusan kekerasan berbasis gender melalui sebaran pengetahuan kepada publik dan sebanyak-ragamnya keterlibatan warga.
Di Kota Tangsel, agenda kali ini adalah kampanye yang ke-3. Kampanye pertama dilakukan Perempuan Berbagi melalui dialog publik “Menggagas Pemulihan Ekonomi untuk Perempuan Korban Kekerasan” (2012) dan kampanye ke-2 dialog publik “Laki-laki Penuh Cinta – menolak kekerasan tinjauan Katolik dan Islam” yang dikerjasamakan dengan 10 organisasi lintas agama Katolik – Islam, organisasi perempuan, akademisi dan komunitas sastra (2014).
Kampanye tahun 2015 (ke-3) ini digotong-royongkan oleh 10 organisasi yaitu: organisasi kemanusiaan Perempuan Berbagi, PKK RT 02/ RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang, HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah, Indonesian Culture Academy (INCA), Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK), Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel, sanggar teater Sarang Matahari dan penerbit Impressa, Onglam Book dan Air Publisher yang selanjutnya disebut Jaringan Kerja 16 Hari Penuh Cinta.
“Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan” tema kampanye 2015. Tema kawani penyintas berangkat dari refleksi situasi kekerasan terhadap anak dan perempuan yang memburuk sepanjang tahun 2015. Sehingga gerakan pendampingan korban di akar rumput perlu terus ditumbuhkan. Disamping terus memantau kemajuan/kemunduran tanggung jawab negara dalam memenuhi hak korban atas pemulihan, kebenaran dan keadilan. Sedangkan tema tanam budaya menolak kekerasan terhadap Perempuan, refleksi atas belum memadainya upaya-upaya hukum dan politik untuk percepatan masyarakat tanpa kekerasan. Karena itu dibutuhkan penguatan gerakan menolak kekerasan melalui pelibatan lebih banyak para pegiat kebudayaan dan pendekatan budaya untuk mengkreasi masyarakat yang aman bagi anak dan perempuan.
Berangkat dari dua persoalan tersebut, jaringan kerja cinta akan menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan publik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar tanggap dalam mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak dan perempuan. Baik tanggap melalui tindakan langsung mengawani atau mendampingi korban, maupun memberikan penyadaran masyarakat melalui jalan kebudayaan. Tiga kegiatan tersebut:
  1.  Sosialisasi Agenda 16 Hari Penuh Cinta, 25 November – 10 Desember, melalui penyebaran liflet informasi TIPS MENGAWANI KORBAN –cara-cara mendampingi anak dan perempuan korban kekerasan. Liflet akan disebarkan kepada masyarakat pada pentas seni 28 November dan 12 Desember di Pamulang kota Tangsel, Banten. Dan penyebaran siaran pers ini kepada berbagai media.
  2. Sekolah Pendampingan Anak & Perempuan Korban Kekerasan, 14, 21, November dan 5 Desember yang diberikan kepada warga RT 02/ RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang Pamulang – Tangsel, Banten. Dengan puncak acara “Pentas Seni Peringatan Hari Internasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan” pada 28 November, 19 WIB – selesai di lokasi yang sama dan kunjungan membangun jaringan kerja pendampingan korban ke Puskesmas yang menjadi rujukan bagi warga setempat. Kegiatan ini sebagai upaya awal menumbuhkan “Rukun Tangga Ramah Anak & Perempuan.”
  3. Pentas Seni dan diskusi buku antologi cerpen Para Penyintas: dari Pamulang ke Papua, 12 Desember 15 – 18 WIB, di Saung Merdesa, Jalan Doktor Setiabudi No.38, Pamulang Barat, Banten 15471, Phone:(021) 93096872, Pamulang – Kota Tangsel, Banten. Acara ini menghadirkan monolog cerpen oleh Mahrus Prihany (KSI Tangsel) diiringi lukisan Yakub Kelana (Gerbang Indonesia), dan penampilan dari INCA & IMSAK, PKK Perumahan Reni Jaya dan Perempuan Pembela HAM. Sedangkan pembahas antara lain buku Shobir Poer, Ketua Dewan Kesenian Tangsel dan perwakilan Perempuan Pembela HAM. Buku yang akan dibahas adalah karya penyintas –korban kekerasan yang bertekad ke luar dari kekerasan—, para pendamping korban dan komunitas sastra di Tangsel, sebagai solidaritas dan tanggung jawab sosial sastra untuk kemanusiaan. Antologi itu hasil dari program Cerita untuk Bertindak, yaitu program gotong-royong yang dilaksanakan atas dasar suka rela dan dorongan moral untuk berkontribusi pada gerakan anti kekerasan. Program dimulai dari tahap kelas menulis cerita pendek, penerbitan hingga mendialogkan buku dengan publik dan negara.
Kegiatan kampanye 16 Hari Penuh Cinta ini terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran. Panitia Bersama mengundang sebanyak-banyaknya partisipasi media untuk mengabarkan dan meliput rangkaian kegiatan guna perluasan manfaat pada sebanyak-banyaknya masyarakat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *