Asma Barlas: Membaca dan Menafsir dengan Adil

Penulis: DIAN MAKRUF

Judul Buku: “Believing Women” in Islam:

Unreading Patriarchal Interpretationsof the Qur’an 

Penulis: Asma Barlas

Penerbit: University of Texas Press, USA

Tebal: xviii + 254 halaman

Cetakan: 1, 2002

Introduksi

Bukankah kita semua, masyarakat Muslim di muka bumi, sepakat bahwa Islam hadir dengan membawa pesan-pesan kebaikan universal atas seluruh dan setiap makhluk? Konon, Islam hadir untuk mengubah tradisi yang merendahkan perempuan secara gradual dengan tetap mempertimbangkan realitas riil yang ada (nilai konteks). Namun tak bisa dihindari, tarik-menarik antara pesan Islam tentang seksualitas perempuan yang memanusiakan dan tradisi yang menistakan terus berlangsung hingga kini. Hasilnya antara lain, lahirnya tradisi dan pemahaman yang justru melemahkan seksualitas perempuan atas nama agama. Atas nama Islam.

Oleh karenanya, penting untuk diwujudkan strategi baru melalui tafsir alternatif dalam mewujudkan peri kehidupan yang adil gender. Salah satu yang berani mengambil risiko—dan mempertaruhkan hidupnya—melakukan upaya ini adalah Asma Barlas melalui buku reflektif-kritis, “’Believing Women’ in Islam: Unreading Patriarchal Interpretations of the Qur’an.” Pemicu utama Barlas melahirkan buku ini adalah stigma yang berkembang dan meluas khususnya di masyarakat Barat mengenai Islam yang disebut sebagai patriarki agamis (religious patriarchy). Islam dinilai sarat model relasi yang hierarkis, ketidaksetaraan seksual, dan superioritas laki-laki atas perempuan.

Untuk itulah seluruh penjelasan buku ini mengarah pada dua pertanyaan penting: (1) apakah Alquran mengandung ide-ide ketidaksetaraan dan penindasan?; (2) apakah Alquran membuka ruang pembebasan terhadap perempuan? Secara praktis, buku ini dimaksudkan untuk melakukan kritik atas penindasan tekstual dan seksual, sehingga mampu menjadi penyeimbang yang legitimate atas “suara Islam” yang otoriter.

 

Kandungan Buku

Struktur buku ini tersusun ke dalam tujuh subab yang terdiri dari sebuah prolog, dua klasifikasi bagian (part) atau tema, dan sebuah epilog sebagai penutup pembahasan. Bab 1, yang sekaligus berfungsi sebagai prolog, berjudul “The Qur’an and Muslim Women: Reading Patriarchy, Reading Liberation”. Pada bab pembuka ini Barlas memaparkan tema sentral dan titik tolak pemikirannya terkait signifikansi Alquran dan pembacaan perempuan atas pembacaan yang sudah mapan terbentuk secara bias. Sepertinya Barlas sengaja tidak menamai bab ini dengan pendahuluan/prolog, sebab bagian ini melampaui sekadar formalitas catatan pengantar menuju bab-bab berikutnya.

Selanjutnya, Bagian I yang terdiri dari dua bab. Bagian ini fokus terhadap analisis karakteristik teks, tekstualitas, dan inter/ekstra tekstualitas dalam arus wacana keagamaan masyarakat Muslim. Di Bab 2, Barlas membahas dengan rinci hubungan antara praktik/metode penafsiran atas teks-teks keagamaan dan makna interpretatif bentukannya. Kemudian di Bab 3 Barlas melakukan penelusuran dan pengkajian interteks dan ekstrateks. Intertekstual mencakup hubungan-hubungan konteks yang melekat di dalam teks (antar maupun antara). Sementara ekstratekstual mencakup singgungan-singgungan teks Alqruan dengan dunia luar seperti historis, hukum, tradisi, hingga negara. Kedua bab ini membantu pembaca untuk menelusuri bagaimana penafsiran suatu ayat dibentuk dan dijadikan wacana keagamaan yang legitimate dan seolah final.

Memasuki Bagian II, pembaca akan menemukan tiga bab yang membahas isu sentral gender, seksualitas, keluarga. Di Bab 4, Barlas mengulas karakteristik dan perbedaan Pengungkapan Diri Tuhan (God’s Self-Disclousure) sebagai ontologi Ilahi dan Pidato Tuhan (God’s Speech) sebagai wahyu Ilahi. Bab ini memainkan peran penting dalam memeriksa konsep hierarki gender yang menurunkan sikap/sifat kuasa ayah/suami yang selama ini merupakan penafsiran penggambaran diri Tuhan sebagai bapak/laki-laki. Tujuan Barlas sangat kentara, menunjukkan kesesatan pemahaman tersebut. Dengan bukti kisah-kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad, Barlas mengkritik tajam gambaran patriarkis tentang Tuhan (sebagai) Bapak.

Pada Bab 5, kita akan menemukan analisis Barlas tentang pendekatan Alquran terhadap seks/jenis kelamin, seksualitas, dan gender. Argumennya, meski Alquran mengakui perbedaan jenis kelamin (biologis), namun Alquran secara diametral menentang pembedaan/dualisme/diferensiasi dan diskriminasi jenis kelamin (sex discrimination). Baik perempuan maupun laki-laki memiliki karakteristik dan kebutuhan seksual yang sama lengkap dan sama di hadapan moralitas Islam. Selanjutnya, di Bab 6 isu yang diangkat adalah permasalahan keluarga dan pernikahan. Spesifiknya, pada bagian ini diurai peran, posisi, dan nilai keadilan antara ibu dan ayah, istri dan suami. Relasi-relasi tersebut diulas dalam kerangka keadilan, kesetaraan, dan keseimbangan. Tidak luput pula dari perhatian Barlas ayat-ayat tentang poligami, perceraian, dan nusyuz.

Terakhir, Bab 7 yang merupakan catatan akhir. Barlas menyatakan bahwa misinya melahirkan buku ini adalah untuk mengembalikan basis struktural bagi kesetaraan seksual dan keadilan gender. Barlas sama-sama menolak ide patriarkis kelompok konservatif Islam dalam beragama dan stigma patriarkis kelompok feminis dalam memandang agama Islam.

 

Membaca dan Menafsir dengan Adil

Barlas melihat, selama ini orang membaca Alquran dengan cara/paradigma tertentu dan berkecenderungan untuk memenangkan bacaan mereka sekaligus mengalahkan bacaan yang lain. Padahal, yang demikian ini akan melukai entitas polisemi Alquran yang terbuka terhadap segala bacaan dan bahasa. Dengan kritik yang lebih dalam lagi, Barlas dengan tegas menyatakan bahwa Alquran bersifat egaliter dan antipatriarkal. Hanya saja, kaum Muslim konservatif telah melakukan pembacaan dengan paradigma yang misoginis untuk meligitimasi maskulinitas mereka. Sehingga alih-alih membaca Alquran sebagai teks integral, para penafsir konservatif justru mempelajari ayat demi ayat, bab demi bab, tanpa mencatat koherensi tematik dan struktural—seperti yang sebelumnya juga dikritik oleh Amina Wadud. Perhatian terhadap koherensi ini sangat penting guna memahami makna luasnya cakrawala Alquran.

Dengan mengutip pernyataan Mohammed Arkoun, Barlas mengatakan bahwa sering kali konteks sejarah, kebahasaan, dan psikologis Alquran dicabut ketika dibaca, lalu terus-menerus direkontekstualisasi ke dalam situasi kultur dan kebutuhan ideologis penafsirnya. Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana masyarakat dan negara menyambut, memaknai, dan menerapkan bacaan tersebut. Sehingga, Barlas merasa perlu dilakukan pengujian siapa yang telah membaca Alquran (latar belakang) dan bagaimana pembacaan itu dilakukan (epistemilogi dan metodologi).

Buku ini sangat menampakkan bagaimana usaha Barlas mengungkap pesan-pesan egaliter terkait gender dan seksualitas perempuan di dalam Alquran. Ia menawarkan sudut pandang yang berbeda—yang keluar dari kultur penafsiran yang selama ini didominasi paradigma patriarki dan maskulinisme. Wawasan semiotika, teologi, dan feminisme, adalah kunci metodologi eksegesisnya dalam membaca isu-isu seperti sifat Tuhan, konsep wakil-wakil dan kenabian, agensi moral, pernikahan, seksualitas, hingga isu praktis seperti poligami, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga. Namun meski Barlas konsisten menggunakan teori-teori Barat dan teori-teori Muslim dalam membangun argumen dan reinterpretasinya, ia sangat hati-hati melakukan pemisahan antara epistemologi Islam dengan epistemologi Barat (feminisme). Lagi-lagi, usaha ini sangat terasa.

Pembacaan teks keagamaan yang segar adalah titik awal untuk memunculkan kembali bacaan dan aplikasi antipatriarki dan nonmisoginis terhadap kitab suci. Ia harus dibaca secara intratekstual sebagai dokumen holistik, dan dibaca secara kontekstual sebagai dokumen historis.

Barlas dalam membaca teks Alquran membaginya ke dalam dua cara. Pertama, membaca “di belakang teks” (behind the text), yaitu memeriksa konteks historis meliputi di mana ayat diturunkan, apa yang melatarbelakangi, dan bagaimana ia dibaca. Kedua, membaca “di depan teks” (in front of text), yaitu mengkontekstualisasikan perhatian terhadap kebutuhan masa kini. Alasannya, interpretasi Alquran yang terus-menerus merupakan keharusan dan perlu dilakukan untuk membuktikan penerapan dan relevansi keuniversalannya. Contoh praktisnya adalah ketika Barlas membedakan antara “wacana Ilahi” dan “teks” tetap pada interpretasi historis kontekstualnya. Mengaburkan dua hal tersebut baginya bertentangan dengan Alquran itu sendiri dan berrisiko mengacaukan pembacaan wahyu. Demikian juga Pengungkapan Diri Tuhan (God’s Self-Disclousure) sebagai ontologi Ilahi seharusnya dimaknai sebagai Pidato Tuhan (God’s Speech) atau wahyu Ilahi.

 

Penutup

Sisi lain yang sedikit menimbulkan pertanyaanadalah, buku ini sangat mengandalkan sumber-sumber sekunder seperti Amina Wadud, Fatima Mernissi, dan lainnya tanpa diimbangi dengan sumber-sumber tafsir primer seperti kitab tafsir al-Thabari, Ibn Katsir, dan semacamnya. Termasuk pula penggunaan Alquran terjemahan bahasa Inggris sebagai rujukan. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan tersendiri, apakah hanya dengan mengandalkan bahasa kedua sudah cukup eligible untuk membahas makna-makna Alquran, melakukan penafsiran, dan kritik atas interpretasi lainnya? Apakah penguasaan terhadap bahasa Arab klasik masih diperlukan? Dan tentu saja, kekhawatiran ini mudah ditangkis Barlas: Alquran adalah kenyataan yang dapat diterima dan dibaca dari segala bahasa.

Kekuatan Barlas di dalam buku ini terletak pada fokus gandanya: metode pembacaan dan reinterpretasi ayat. Ini adalah kontribusi yang menarik bagi perkembangan pemikiran Muslim kontemporer. Meski telah dilakukan enam belas tahun yang lalu, buku ini masih sangat relevan untuk dibaca kini.Bahkan, jikabuku ini dibaca oleh non-Muslim sekali pun—tentu dengan mengadopsi cara baca hermeneutika dan spirit keadilannya. Sebab, interpretasi/tafsir-tafsir patriarkis terjadi tidak hanya pada Alquran, tetapi juga di seluruh kitab suci agama-agama.Namun demikian, agaknya buku ini menuntut pembacanya untuk memiliki pengetahuan atau perspektif gender-seksualitas yang mapan sebelum mengonsumsi reinterpretasi di dalamnya. Sedikit membutuhkan usaha untuk memahami buku ini bila bukan dari latar belakang keilmuan tafsir kitab suci, serta kajian gender.

Di akhir-akhir pembahasan buku, Barlas menutup dengan nada yang agak pesimis, “As a Muslim woman, I have a great deal at stake in combating repressive reading of the Qur’an and also in affirming that Islam is not based in the idea of male epistemic privilege,” (hal. 209-210). Bagaimanapun, semangat Barlas adalah semangat pembebasan. Ia meyakini bahwa strategi hermeneutik yang ditawarkan buku ini akan membawa pada pemahaman Alquran yang bersifat pencerahan, ramah gender,dan berkeadilan. Barlas mengajak untuk kita untuk membaca Alquran dengan cara baru yang holistik.Sebab, merupakan tanggung jawab individu pembaca Alquran untuk mengungkap makna dengan menggunakan intelektualitas dan ijtihad-nya sebagai alat untuk memahami, ketimbang menerima secara buta.[]

*Tulisan ini dan berbagai tulisan lain karya Dian Makruf juga diterbitkan di https://mardiansulistyati.academia.edu/research#papers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *