Call Me By Your Name, Tentang Menjadi Orang Tua Idaman

Judul: Call Me By Your Name

Sutradara:  Luca Guadagnino

Durasi: 132 menit

Genre : Drama/Romansa

Pemain:

  • Timothée Chalamet sebagai Elio Perlman
  • Armie Hammer sebagai Oliver
  • Michael Stuhlbarg sebagai Mr. Perlman
  • Amira Casar sebagai Annella Perlman

Film ini sedang menjadi perhatian orang ramai dan memang memperoleh Piala Oscar untuk kategori skenario adaptasi (adapted screenplay) terbaik. Namun hanya itu. Meskipun demikian, film ini mengesankan bagi banyak orang terlepas dari riuh rendah pesta Oscar 2018.

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah novel dengan judul yang sama dituliskan oleh André Aciman [1]. Sepuluh tahun kemudian novel ini diadaptasi menjadi film. Kisah dalam film ini berjalan pelan dan indah seperti kisah pada novelnya. Meskipun tetaplah ada aspek yang berbeda dalam menikmati novel dan film.

Film ini berkisah tentang manusia yang jatuh cinta. Cinta pertama Elio pada Oliver dan keterpesonaan Oliver pada Elio.

Elio mekar sebagai remaja yang penuh ingin tahu dan terlindung-terawat di sebuah lingkungan yang memanjakannya dengan buku, musik, dan seni. Ia cerdas, mempesona, dan berani layaknya remaja belia. Sedangkan Oliver yang berusia lebih dewasa, memilih bertindak hati-hati. Namun upaya Oliver menjaga jarak dari Elio tidak berhasil sama sekali.

Laiknya relasi anak remaja dengan orang tuanya, Elio sering bersikap seolah acuh tak acuh sekaligus masih bermanja-manja dan sesekali ngambek. Pada film ini sikap tubuh itu sangat terasa. Seiring dengan gesture Elio, orang tuanya, Bapak dan Ibu Perlman juga menanggapi sikap Elio dengan santai dan penuh kasih sayang, acuh tak acuh sekaligus empatik. Namun teguran cukup keras akan diberikan jika Elio dianggap tidak bersikap pantas selayaknya manusia yang beradab dan adil.

Bapak dan Ibu Perlman menanggapi apriori Elio terhadap Oliver dengan tenang dan rasional. Saat apriori Elio terhadap Oliver berkembang menjadi rasa penasaran dan gelisah karena hasrat yang belum dikenal, Bapak dan Ibu Perlman tetap tenang. Saat Elio laiknya remaja lelaki yang mulai bertualang seksual, Bapak Perlman asertif menanggapi dan tidak menghakimi. Saat Elio sedih karena tak bisa mengungkapkan perasaan, Ibu Perlman membacakan puisi cinta yang romantis untuknya. Bapak Perlman selalu bersikap lembut dan tak segan membuai Elio dengan kasih sayang sambil menawarkan dukungan ruang aman jika Elio sedia membuka diri. Saat Elio sedih karena akan berpisah dengan Oliver, Ibu dan Bapak Perlman mengijinkan mereka berdua menghabiskan waktu bersama-sama hanya berdua saja.

Sumber: Pinterest

Ibu dan Bapak Perlman tidak pernah mempersoalkan jenis kelamin Elio dan Oliver. Mereka lebih memperhatikan bagaimana Elio dan Oliver saling memperlakukan, berani jujur dengan persahabatan mereka yang intim, dan mendukung bagaimana dua sejoli ini saling menemukan betapa berartinya diri mereka untuk satu sama lain. Komitmen untuk memberikan ruang aman pada Elio untuk menjadi diri sendiri sungguh dilakukan. Ruang dan waktu diberikan hingga Elio siap membuka diri, bercerita, dan mendengarkan nasihat.

Berbagai perilaku di atas adalah adegan dalam film yang dilakukan secara sangat wajar dan hampir seolah alamiah saja. Relasi Elio dengan orang tuanya memang bukan fokus dalam film ini. Namun keindahan kisah percintaan ini makin terasa karena konflik antar generasi dengan perbedaan wawasan tidak perlu terjadi.

Film ini memperoleh tanggapan yang sangat positif. Banyak penonton remaja yang sangat terkesan dengan orang tua Elio. Betapa mereka mendambakan orang tua yang penuh kasih sayang dan setia melindungi anaknya apa pun keadaan anak mereka. Kisah yang diciptakan dekade lalu dan diadaptasi menjadi film ini seolah menunjukkan bahwa menjadi orang tua yang berwawasan luas dan tidak berteguh pada pandangan moral kaku dan hipokrit adalah mungkin.

Bahkan sebagai keluarga berlatar belakang Yahudi, Elio menerima pendidikan dari ibunya bahwa menjadi Yahudi adalah pilihan. Selanjutnya bagaimana eksistensi keyahudian Elio menjadi jelas keterhubungannya dengan Oliver. Hal ini sewajarnya remaja yang mudah ikut arus yang mempesonanya. Ibu Perlman dengan penuh perhatian dan lembut menjajaki perasaan anaknya yang tersayang ini. Beberapa mengkritisi bahwa lukisan keluarga di film ini terlalu baik, too good to be true. Keluarga yang terlalu sempurna. Elitis. Kisah cinta sesaat yang getir tapi manis, tanpa tantangan sebiasanya yang terlukis pada film-film tentang relasi homoseksual. Film ini terlalu berbusa-busa. Kisah ini tidak kontekstual dengan realita yang terjadi atas insan LGBT pada tahun 80-an yaitu merebaknya HIV-AIDS. Kisah cinta seperti ini tidak akan terjadi pada kelas pekerja, buruh, petani, nelayan, keluarga miskin, dan tidak memiliki akses kepada pendidikan. Kisah ini sangat utopis bahkan untuk kalangan manusia kulit putih. Tak akan terbayangkan kisah ini terjadi pada manusia kulit berwarna. Film ini terasa tidak masuk akal. Sureal [2].

Bisa jadi kritik ini benar. Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa sebuah keluarga sederhana memiliki pengertian dan rasa bahwa hati mampu bekerja, berpikir, dan merasa secara unik, sehingga mencintai melampaui segala sesuatu adalah keniscayaan. Sangat dimungkinkan bahwa memandang cinta secara sederhana dan apa adanya mampu membuat orang tua menerima keunikan anaknya. Ada banyak sekali film tentang orang tua yang baik. Tetapi tidak banyak film tentang menjadi orang tua yang baik pada anaknya yang adalah insan LGBT [3].

Ibu dan Bapak Perlman menjadi orang tua yang mengasuh Elio dengan sebaikbaiknya orang tua yang didambakan. Cinta mereka berlimpah pada Elio. Elio tumbuh merdeka menjadi diri sendiri, jujur pada hasrat dan perasaan yang ditemukan, serta berani untuk mencintai. Sangat penting untuk mampu mencintai, merasakannya, bahkan jika cinta itu mendukakan karena harus berakhir [4].

Pada sebuah wawancara dengan penulis novel ini, Sang Penulis mengatakan bahwa ia memang hanya ingin berfokus pada mekarnya hubungan percintaan antara dua insan. Ia ingin percaya bahwa alaminya demikianlah sebuah hubungan  percintaan tumbuh, terlepas dari apa pun jenis kelaminnya. Ia juga senang sekali novelnya diadaptasi menjadi film, bahkan diadaptasi lebih baik daripada novel aslinya [5].

Pada akhirnya film ini berkisah tentang cinta tak bersyarat, cinta tanpa sebab dan tanpa karena. Film ini tentang CINTA.

*Pudji Tursana yang berprofesi sebagai seorang sekretaris dan berzodiak Cancer ini dapat dihubungi melalui emailnya pudjitursana@gmail.com

Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh SUARA KITA pada 4 April 2018

PUDJI TURSANA

Lahir di Jakarta 25 Juni 1974. Sejak kecil mencintai pengetahuan, buku dan membaca. Menulis baginya bagaikan rindu dendam dan cinta dalam sekam, membara dan hangat diam-diam. Sebelumnya Pudji menulis untuk keperluan pelayanan kepada anak jalanan, penyintas bencana dan konflik, serta pengungsi. Ia lama tinggal di Yogyakarta untuk studi matematika di Universitas Sanata Dharma; kemudian bekerja pada Jesuit Refugee Service Indonesia di Medan dan Aceh untuk pelayanan kepada penyintas konflik dan bencana tsunami (2002-2008). Pengalaman berjumpa dengan beragam manusia dan berbagai isunya yang kompleks menggerakkan Pudji untuk pelan-pelan belajar menulis dari berbagai komunitas kerja pelayanan kemanusiaan. Saat ini, ia bekerja sebagai sekretaris di Jakarta, melakukan pelayanan untuk pendidikan dasar dan menengah di Asosiasi Jesuit Indonesia. Cerpen “Catatan Tiara tentang Kirana dan Sucipto” adalah cerpen pertamanya. Pudji tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui pudjitursana@gmail.com.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *