Merayakan Kartini: Film, Kopi & Puisi

Penulis: Febbry Bhirink

Tahun ini, ada yang asyik, unik dan bernas dalam perayaan Hari Kartini di Tangerang Selatan. Beragam warga berkumpul menonton film-film pendek seraya minum kopi, musikalisasi puisi dan membaca surat-surat Kartini. Film-film tersebut merupakan karya para sutradara muda perempuan dari berbagai latar belakang kampus dan komunitas.

Kegiatan ini diselenggarakan CINESPACE sebuah ruang putar film alternatif di Gading Serpong. Acara ini sendiri adalah program istimewa tahunan Cinespace setiap tanggal 21 April dalam rangka merespon momen perayaan Hari Kartini.

Rekan kerjasama Cinespace dalam kegiatan ini adalah Warung Perempuan Kopi yang dikelola oleh Dewi Nova, penyair serta aktivis perempuan yang tinggal di Tangerang Selatan. Warung Perempuan Kopi turut bekerja sama dalam kegiatan ini karena menurut pemiliknya, Dewi Nova, warung ini sendiri lahir terinspirasi dari buku kumpulan cerita Perempuan Kopi, yang mengisahkan daya hidup perempuan tertindas secara seksual, penghidupan dan lain-lain.

“Karena itu, solidaritas pada yang diopresi menjadi jiwa dan cara warung ini bertumbuh. Jiwa itu sejalan dengan apa yang dipikirkan Kartini sebagai perempuan, yang menuliskan pikiran-pikiran untuk menolak dan menghentikan berbagai opresi pada manusia.” demikian menurut Dewi Nova.

Acara dibuka pada pukul lima sore. Sebelum menikmati film-film pendek yang telah disiapkan Cinespace, pengunjung terlebih dahulu menyicip aneka ragam seduhan kopi dari Warung Perempuan Kopi. Sembari menikmati kopi, mereka juga menyaksikan serta menghayati pembacaan surat-surat Kartini oleh beberapa guru, mahasiswa dan juga pegiat film. Acara ini semakin hidup karena pengunjung juga dimanjakan oleh musikalisasi puisi penyair Dewi Nova yang diiringi musisi Emperan Pamulang (Empang).

Foto: @cine_space

Menghayati Api Kartini Di Masa Kini

Menurut Dewi Nova, Kartini adalah pemikir yang mampu melihat sejarah sekaligus mengkritisi sejarah, tradisi yang menguntungkan sebagian manusia dengan mengorbankan manusia yang lebih banyak.

“Kartini juga mampu mengkritisi situasi aktual di jamannya antara lain: kaum terdidik yang duduk diam dengan penindasan, dan agama yang mengajarkan menghindar dari dosa, tapi orang membiarkan orang-orang melakukan dosa/kejahatan atas nama agama.” jelas Dewi Nova.

Bila dikaitkan dengan politik nasional dan Tangerang Selatan khususnya saat ini, kedua kondisi itu menurutnya masih terus jadi tantangan bangsa ini.

“Kelas menengah, akademisi, dan lain-lain, lebih sibuk membela kepentingannya baik secara afiliasi politik, sumber daya ekonomi dari pada terlibat dalam soal-soal kemanusiaan.” terangnya.

Lebih lanjut menurut Dewi Nova, “Masyarakat terdidik makin pragmatis memenuhi kepentingan dan menjauh dari praksis sosial dan praksis politik untuk tata negara dan sosial yang lebih berkeadilan sosial dan berperikemanusiaan. Apa yang Kartini sebut sebagai dosa atau kejahatan atas nama agama, saat ini di Indonesia juga mencapai titik terburuk dimana upaya-upaya kesetaraan, keadilan, demokrasi, kemanusiaan dan persatuan bangsa dihancurkan melalui politisasi agama baik melalui regulasi negara, politik praktis pilgub/pilpres/pileg, kurikulum pendidikan dan lain-lain. Agama menjadi hantu untuk mencegah keadilan dan demokrasi berjalan lebih baik bagi semua, setiap ragam warga negara. Sedikitnya kita perlu membaca lagi dua pikiran Kartini tersebut untuk memulihkan merosotnya kemanusiaan, keadilan sosial dan demokrasi beberapa tahun terakhir ini,”

Kami bertanya apa harapan Dewi Nova terhadap gerakan perempuan di Tangerang Selatan khususnya dan di Indonesia umumnya. Ia menjawab,

“Janganlah satu kaki melangkah pada pembebasan opresi kemanusiaan tapi kaki yang satu rela dibuai norma susila yang diciptakan patriarkis-heteronofmatif, satu kaki rela jadi budak kapitalis dan pengikut agama yang taklid. Karena hal itu akan merugikan ruang gerak dan makna gerakan perempuan bagi bangsa dan negara. Dan membuat gerakan perempuan gampang dijinakkan pada hal-hal yang menjauh dari keadilan,” tegasnya.

Tangerang Selatan – Senin, 23 April 2019

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *