Perempuan Penulis dalam Festival Literasi Tangsel

Tangerang Selatan tengah berbahagia. Semangat berliterasi sedang bergelora di kalangan masyarakat Tangsel, baik yang muda maupun yang tua. Pasalnya, ini tahun ke dua masyarakat Tangsel menggelar Festival Literasi Tangerang Selatan.

Usai sukses menggelar festival pertama pada tahun lalu, kini festival tersebut kembali lagi dengan mengusung tema Narasi Baru. Festival diselenggarakan selama dua hari pada 17 dan 18 November di Kandank Jurang Doank, Ciputat, Tangerang Selatan. Roeng Kata, Tangsel Creative Foundation dan Indonesia Literary Collective, mereka adalah kumpulan anak muda penyelengara kegiatan yang baik ini.

Namun, ada yang lebih membahagiakan lagi di festival tahun ke dua ini. Festival kali ini tak sekadar berupaya menumbuhkan atmosfer berliterasi di masyarakat Tangsel secara umum, namun juga berupaya berbagi ruang untuk berbicara secara khusus mengenai kepenulisan dan perempuan.

Dewi Nova, seorang penulis yang tekun menyuarakan isu-isu perempuan, hadir sebagai penyaji materi dalam kelas Kepenulisan dan Perempuan, pada hari pertama festival digelar. Penulis yang juga dosen dan sekaligus pecinta dan penjual kopi ini, melalui pemaparannya, menyampaikan perlunya perempuan menyuarakan hidup dan pikiran-pikiran pada masanya masing-masing melalui karya tulis. Ini berguna untuk membagi gagasan dengan masyarakat yang mayoritas masih tunduk pada budaya patriarki.

“Sebagai penulis, tugas kita hanya perlu menulis dan berpegang dengan nilai hidup yang akan melandasi karya-karya tulis kita,” demikian disampaikan oleh Dewi Nova.

Foto: Siska Sriyanti

Pencapaian Dewi Nova sebagai penulis perempuan yang juga banyak menulis tentang dunia perempuan memang patut diteladani. Ia tidak saja tajam dalam menghardik ketidakadilan yang kerap dialami perempuan, melainkan juga sangat brilian memilih diksi yang tepat untuk dituliskan, baik melalui puisi, cerpen, esai maupun naskah akademik yang pernah ia ciptakan.
“Bukan jenis kata yang akan mengobarkan amarah, melainkan mengobarkan kesadaran,” demikian kata kunci yang Dewi Nova sampaikan kepada para peserta.

Foto: dokumentasi Instagram @festivalliterasitangsel

Ada banyak ragam kegiatan lain yang turut memeriahkan Festival Literasi Tangsel tahun ke dua ini. Di antaranya adalah diskusi buku, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, film layar tancap, bazaar dan sebagainya. Pada akhirnya, keterbukaan ruang bagi topik kepenulisan dan perempuan terasa sangat melengkapi rangkaian festival tersebut. Literasi bangsa ini memang mesti terus ditumbuhkan berlandaskan semangat cinta dan kesetaraan, semangat memulihkan perempuan dari ketertindasan, juga semangat untuk memulihkan tiap manusia dari sifat penindas itu sendiri.

Oleh: KAIFIN PRASTYO & FEBBRY BHIRINK

KAIFIN PRASTYO

Kaifin, seorang muda kelahiran Kebumen 4 Mei 1993, yang memiliki passion berpikir tentang keseimbangan hidup sebagai manusia yang arif dalam menjalani kehidupan. Sebagai seorang penggiat seni, Kaifin aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang Selatan dan Sanggar Sarang Matahari.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *