Rajut Kejut: Merajut Keberagaman

Penulis: Pudji Tursana

Car Free Day Sudirman, 21 April 2019 / Foto: Facebook Page: Rajut Kejut

Ada yang sangat istimewa pada Hari Kartini tahun 2019 ini.  Tepat pada tanggal 21 April 2019, komunitas Rajut Kejut kembali hadir di Car Free Day Sudirman.  Kali ini Rajut Kejut memeriahkan pagi dengan berkeliling membawa Bendera Merah Putih bertuliskan “Merajut Keberagaman”.

Bendera berukuran 3,2 m x 8 m terdiri dari 756 granny square ukuran 10 x 10cm dan 531 granny square ukuran 20x20cm yang disambung satu per satu dengan cara dirajut juga. Karya ini melibatkan 91 partisipan, perempuan dan laki-laki, rentang usia belasan hingga 70an tahun. Para partisipan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia: Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, Cirebon, Semarang, Malang, Surabaya, Pekanbaru, dan Medan.

Bulan Februari hingga medio April 2019 adalah hari-hari merajut keberagaman yang konkret. Rajut Kejut mampu menggunakan media sosial dengan efektif, mengumumkan ajakan untuk ambil bagian dalam kegiatan yang cihuy ini. Para perajut berpartisipasi dalam berbagai bentuk, yaitu: menyumbang benang, menyumbang tenaga dan karya rajut, menyumbang uang, dan kombinasi di antara ketiganya.

Kok bisa? Apa yang menggerakkan orang-orang ini?

Berawal dari keprihatinan akan kondisi Indonesia yang tidak asyik lagi akibat perbedaan pilihan pemimpin. Pertemanan terpecah, antar anggota keluarga tidak saling menyapa, yang tadinya akur menjadi tidak akur, dan sebagainya.

Padahal selama ini berbagai perbedaan di Indonesia adalah kekayaan dan keberagaman yang niscaya. Setiap warganya hidup berdampingan dan bergotong royong mengupayakan hidup bersama, yang sudah seharusnya dijaga dan dipelihara.

Karya rajut Merajut Keberagaman ini adalah hasil konkret dari semangat berkolaborasi dan bergotong royong. Sampai pada hasil akhirnya, insan Rajut Kejut yang semuanya adalah relawan, bergotong royong bergantian menggotong bendera merah putih bertuliskan Merajut Keberagaman.

Rajut Kejut di Happines Festival, Lapangan Banteng, 27 – 28 April 2019 / Foto: Facebook Page: Rajut Kejut

Salah satu kelompok relawan Rajut Kejut, KopiBukuBenang (KBB), merasa senang bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Semangat untuk berbagi, saling mendukung, dan bergotong royong sangat sesuai dengan semangat kelompok kami, demikian hal yang disepakati Dian dan Ika dari KBB. Sangat mengharukan bisa melihat spanduk ketika sudah jadi satu, lanjut Dian.

Tentang Rajut Kejut

 Rajut Kejut pada media sosialnya mendeskripisikan diri sebagai kelompok/komunitas perajut dengan keanggotaan bersifat longgar untuk membuat beragam proyek rajutan seru dan bermakna.[1]

Deskripsi singkat ini telah terbukti sejak tahun 2014, saat Rajut Kejut mulai terbentuk sebagai komunitas. Para penggagas Rajut kejut adalah: Elisabet Tata, Harjuni Rochajati, Nyoman Vidhyasuri Utami, Utiek Wahono, dan Yulina Achrini. Selanjutnya semakin banyak bermunculan teman-teman baru yang bersemangat berkarya bersama Rajut Kejut. Keanggotaan Rajut kejut bersifat terbuka dan tidak mengikat. Siapa saja, asal bisa merajut, boleh bergabung.

Para perajut crochet – menggunakan satu haken – berkumpul untuk membuat karya yarn bombing.Yarn bombing, bom benang terjemahan harfiahnya, adalah sebuah karya yang menggunakan materi benang, diciptakan untuk memberikan pesan tertentu, dan ditampilkan untuk menarik perhatian masyarakat. Yarn bombing adalah bagian dari seni jalanan (street art). Seni jalanan ini telah merambah mewarnai dunia dan menjadi inspirasi Rajut Kejut untuk membuat hal yang mirip bagi Jakarta, Indonesia.

Aksi Rajut Kejut biasanya muncul sebagai sebuah reaksi untuk mengungkapkan kepedulian komunitas terhadap sebuah fenomena atau peristiwa tertentu yang terjadi di dalam masyarakat. Pada setiap karya pasti akan selalu terselip pesan dan harapan untuk menumbuhkan semangat dan upaya mendukung kebersamaan dalam kebergaman dan kemanusiaan.

Dalam beberapa kesempatan Rajut Kejut “ngebom” di ruang publik, misalnya di taman-taman kota, di kereta commuter, dll. Karya dirajut dan dirangkai untuk memperindah ruang publik, sambil sekaligus mengajak publik untuk membangun kesadaran tertentu, misalnya soal keberagaman tadi, cinta tanpa diskriminasi, cinta transportasi publik, perayaan kemerdekaan, dll. Beberapa kali Rajut Kejut meninggalkan karyanya untuk dinikmati sebanyak mungkin orang yang melalui ruang publik tersebut.

Harjuni Rochajati, akrab disapa sebagai Mbak Ati, mengatakan bahwa  sudah menjadi resiko Rajut Kejut jika karyanya hilang atau mengalami kerusakan karena vandalisme. Menggotong karya beramai-ramai dengan penuh sukacita dan kegembiraan, sambil menyanyi berbagai lagu perjuangan, adalah sebuah cara meminimalkan vandalisme. Karya awet dan senantiasa bisa dihadir dalam berbagai kesempatan. Para relawan juga bahagia.

Rajut Kejut masih akan hadir di berbagai kesempatan. Mari kita membangun kepekaan. Saat ada situasi sukacita yang perlu dirayakan Rajut Kejut akan hadir. Saat ada fenomena yang rentan terhadap kebangsaan kita, Rajut Kejut akan hadir mengajak kita untuk kembali kepada hakekat kita sebagai Indonesia.

Jika ada yang tertarik bergabung menjadi relawan, sila berkunjung ke berbagai media sosial seperti Facebook dan Instagram Rajut Kejut. Rajut Kejut ada di sana dan sangat terbuka, untuk mendukung, dan berkolaborasi dengan kita.

Markas Rajut Kejut, Rumah Penjernihan V / Foto: Facebook Page: Rajut Kejut

[1]https://www.facebook.com/pg/rajutkejut/about/?ref=page_internal

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *