Sa Ada Di Sini: Suara Perempuan Papua dan Noken sebagai warisan budaya dunia dari Papua

Sa Ada Di Sini[1]

Suara Perempuan Papua dan Noken sebagai warisan budaya dunia dari Papua

Dokumentasi pribadi Virly Yuriken

Perempuan Papua mengalami pemiskinan dan suaranya tidak didengar oleh masyarakat. Budaya kekerasan dan relasi yang timpang antara laki-laki dan perempuan Papua membuat perempuan sulit untuk maju. Budaya kepemilikan harta yang hanya memberi peran pada laki-laki membuat perempuan kesulitan untuk ikut ambil bagian menjaga tanah adat dan memiliki kuasa atas alat produksi. Ketimpangan struktural dan pengalaman konflik kekerasan melanggengkan budaya yang merugikan perempuan Papua.

Konflik dan tragedi kemanusiaan di Papua menyisakan luka jiwa dan fisik yang sangat dalam pada kehidupan perempuan di Papua. Dalam situasi itu, banyak laki-laki dibunuh atau lari ke dalam hutan dan tidak kembali. Tinggallah hanya para perempuan dan anak-anak di desa-desa. Dampak konflik ini tidak serta merta dapat dipulihkan begitu saja. Kehilangan anggota keluarga dan pengalaman disiksa membuat perempuan Papua sangat terluka. Kebijakan Otonomi Khusus yang diharapkan dapat memperbaiki situasi dan kondisi masyarakat di Papua ternyata tidak menjangkau perempuan.

Kehidupan yang tetap harus berjalan membuat perempuan Papua menjadi tangguh. Mereka menjadi tulang punggung keluarga. Perempuan Papua bekerja di ladang, ambil air yang sumbernya jauh dari pemukiman, berjualan hasil bumi di pasar, dan bekerja sebagai ibu sekaligus kepala keluarga di rumah. Kiprah perempuan Papua untuk memulihkan kehidupan dan berupaya untuk berdaya menjadi cermin setiap aspek kehidupan dan kebudayaan Papua.

Semua kisah di atas terekam dalam film Sa Ada Di Sini. Film yang berdurasi kurang lebih 38 menit mengisahkan dengan cukup rinci kehidupan para perempuan di Papua. Film ini menjadi pembuka acara peringatan Hari Kartini, 21 April 2018.

Hari Kartini tahun 2018, kami coba maknai secara lebih luas, bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang ditawarkan oleh Kartini adalah sebuah nilai universal yang menjadi harapan setiap perempuan. Pemikiran Kartini soal perempuan yang berdaya menghantar kami pada upaya untuk mengenal budaya perempuan nusantara yang beragam. Budaya Perempuan Papua kami pilih karena sebagai propinsi yang terjauh, kaum perempuannya paling kurang dikenal dan disayang.

Kak Selviana Yolanda sebagai pembuat film Sa Ada Di Sini mengelaborasi pengalaman perempuan Papua ini dalam sebuah diskusi pendek yang hidup. Para peserta yang datang dari berbagai kalangan merasa tersentuh dan terkesan dengan film yang disajikan. Beberapa peserta disabilitas dari Lembaga Daya Dharma (LDD) terbangun empatinya dan merasa bahwa bahkan sebagai kaum disabilitas mereka hidup lebih mudah dan berdaya. Mereka berharap perempuan Papua akan lebih berdaya dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada sekarang. Peserta juga menuturkan harapan bahwa budaya yang memberdayakan dan bersemangat kesetaraan semoga juga tumbuh di kalangan anak muda Papua. Ajakan untuk berbagi peran dalam tugas keseharian tanpa memandang perbedaan jenis kelamin perlu dilakukan terus menerus. Selain itu, tumbuh kesadaran bahwa saling mendukung dan menolong antara sesama perempuan akan mendorong terciptanya budaya yang adil dan setara dengan lebih efektif.

Workshop noken oleh Dharmakara Rumah Seni dan Sri Berbagi

Mengenal perempuan Papua tak bisa dilepaskan dari Noken sebagai pendukung perempuan Papua untuk bekerja. Nokenartinya alat untuk membawa barang. Perempuan Papua identik dengan Noken yang tersampir di kening. Sebuah adegan di film Sa Ada Di Sini juga memperlihatkan seorang Mama Papua yang membawa air dengan Noken yang tersampir di kepala. Pada beberapa tautan daring tentang Papua ada banyak foto yang memperlihatkan Noken sebagai pembawa bayi, hewan ternak, berbagai bahan makanan, dan lain-lain. Sejak tahun 2012 oleh UNESCO Noken telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (intangible cultural heritage) Indonesia. [2]

Helena (sumber foto: dokumen pribadi Selviana Yolanda dan Helena)

Pada acara ini hadir pula Ibu Helena, seorang perempuan Papua asal Timika yang menjadi fasilitator untuk workshop Noken. Ibu Helena mengajak para peserta untuk mengenal Noken dengan mencoba untuk membuatnya. Bukan hal yang mudah untuk para peserta yang tidak akrab dengan seni merajut. Namun hal ini tidak mengurangi kegembiraan berkenalan dan mendengarkan Ibu Helena bercerita tentang Noken. “Saya lahir bersama Noken, saya tumbuh di dalam Noken, saya hidup bersama Noken.”[3] , demikian tutur Ibu Helena, “maka saya cinta Noken.”, tambahnya lagi.

 

Sepanjang acara nonton film, diskusi, dan workshop Noken, digelar juga kerajinan karya komunitas Lembaga Daya Dharma dan Sri Berbagi-Perempuan Berbagi, serta beberapa Noken dari daerah Iwaro Sorong dan Wamena. Dharmakara Rumah Seni dan Sri Berbagi, komunitas yang bergotong royong menjadi penyelenggara acara ini, sangat bersuka cita atas kehadiran para peserta yang antusias. Rasa terima kasih dan hormat yang mendalam juga dihaturkan kepada Selviana Yolanda dan Ibu Helena yang hadir sebagai nara sumber dan fasilitator acara ini.

Foto bersama usai workshop noken

 

[1]https://www.youtube.com/watch?v=5HHE5lfuNOA  sebuah film dokumenter tentang kehidupan Perempuan Papua yang sarat dengan sejarah kekerasan dan upaya untuk lebih berdaya di masa depan.

[2] https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbpapua/2017/12/04/lima-tahun-noken-sebagai-warisan-budaya-dunia-dan-identitas-orang-papua/

[3] Catatan Dewi Nova

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *