Sri Berbagi: Sebuah Langkah Kecil Menuju Kesetaraan

 

Kalender mencatat, saat itu tanggal 7 Juni 2015. Gelap selasar Taman Ismail Marzuki menjadi saksi kami ketika pertama kali kami berkumpul dan menyusun rancangan tentang apa itu Sri Berbagi dan apa yang akan kami lakukan ke depan. Kemudian, bagaimana nantinya Sri Berbagi bisa menjadi platform kelompok marjinal untuk mengreasikan bakatnya.

Sebelum itu, izinkan saya menceritakan sedikit tentang Sri Berbagi ini. Sri Berbagi adalah sebuah komunitas yang dibentuk oleh dua komunitas. Sederhananya, Sri Berbagi ini semacam kolaborasi apik dari dua komunitas bernama Perempuan Berbagi dan Sri Kendes. Dengan menggabung nama kedua komunitas tersebut, maka terciptalah Sri Berbagi.

Didasari daya kreatifitas dan minat akan keindahan orang-orang di dalam kedua komunitas itu, maka tercetuslah ide untuk mendaur ulang kain-kain sisa dari Sri Kendes, menjadi beragam asesoris seperti kalung, anting, gelang dan masih banyak lagi. Hasil penjualan barang-barang tersebut kemudian akan disumbangkan untuk membantu pergerakan isu-isu perempuan dan isu-isu kaum marjinal lainnya.

Sejauh ini Sri Berbagi berhasil bekerja sama dengan beberapa pihak, atau sekadar menitipkan barang dagang di acara-acara bertema feminisme di Jakarta seperti Women March. Selain itu, beberapa kali juga mengikuti Garage Sale, dan yang terakhir mengikuti Feminist Festival di Jakarta. Mengikuti beberapa kegiatan tersebut bertujuan untuk memperluas jaringan Sri Berbagi sekaligus terus menjual karya-karya senimannya.

Dalam menjalankan misi Sri Berbagi, tentu saja terdapat beberapa kesulitan, seperti berubah-ubahnya tren fashion di Indonesia, kurangnya tenaga pengrajin dan juga minat orang-orang menggunakan asesoris kini mulai berkurang. Menanggapi hal tersebut, Sri Berbagi kemudian melakukan banyak inovasi seperti mengikuti pelatihan merajut, menjahit, membatik dan masih banyak lagi. Terakhir, Sri Berbagi pun mencoba untuk melebarkan sayap dengan mencoba membuka pelatihan merajut untuk komunitas ibu-ibu.

Perjalanan dua tahun Sri Berbagi tidak bisa dikatakan mudah, karena bukanlah sesuatu yang instan jika membicarakan mengubah peradaban yang patriarkis menjadi peradaban yang setara, seperti yang diinginkan Sri Berbagi. Jadi sebelum sampai ke sana, yang bisa kami lakukan adalah mengubah gelapnya selasar Taman Ismail Marzuki menjadi setitik hangatnya kebersamaan dan juga menjaga agar api lilin semangat perjuangan menuju kesetaraan terus menyala.

Penulis: Wisesa Wirayuda

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *