Terorisme: Perempuan Dalam Bekapan Kekerasan

Oleh: Khoirul Anam*

Serangan teror yang terjadi baru-baru ini mengagetkan publik, salah satu sebabnya adalah
adanya keterlibatan perempuan dalam aksi penuh kekerasan tersebut. Tak pernah sebelumnya, perempuan dilibatkan dalam aksi teror, atas nama apapun. Jikapun ada perempuan dalam kelompok pengusung ajaran teror, peran mereka hanya sebatas pengikut dan perawat.

Beberapa studi terbaru soal terorisme modern menyebut keterlibatan perempuan dalam gerakan dan aksi terorisme digaungkan kembali oleh kelompok teroris internasional ISIS. Melalui sejumlah maklumat dan perintahnya kepada para pengikutnya, ISIS meminta agar istri dan anak-anak diajak serta untuk ‘hijrah’ ke Irak dan Suriah yang mereka klaim telah menjadi wilayah dengan sistem pemerintahan Islam.

Bagi ISIS, keluarga memainkan peranan penting dalam mensukseskan ilusi pendirian Negara Islam di seluruh dunia. Di mana masing-masing anggota keluarga memiliki peran dan tugas tersendiri. Karenanya, ISIS telah sejak lama meminta agar pengikutnya terus mendukung dan berhijrah dengan mengajak serta seluruh anggota keluarga.

Meski begitu, sebagaimana diragukan pula oleh banyak pihak, ISIS tak pernah memberi
maklumat agar perempuan perempuan ikut melakukan aksi teror secara langsung, dengan melakukan aksi bom bunuh diri, misalnya. ISIS masih cenderung menganggap bahwa prajurit / fighter adalah peran laki-laki. Perempuan dan anak, betapapun penting peran mereka, diposisikan sebagai pendukung atau lapis kedua.

Pembedaan ini ditunjukkan ISIS dengan pembagian tugas dan peran kepada masing-masing anggota keluarga. Suami misalnya, berperan sebagai prajurit, sementara istri berperan sebagai pendukung suami sekaligus pendidik guna menyiapkan anak-anak mereka menjadi pendukung ISIS di masa mendatang.

Pembagian tugas seperti yang dilakukan oleh ISIS di atas terjadi pula pada kelompok teroris di Indonesia. Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso misalnya, mereka juga membawa serta istri-istri mereka untuk ikut tinggal di kamp-kamp persembunyian di kawasan hutan dan pegunungan Poso. Meski begitu, para istri tidak benar-benar dilibatkan dalam aksi terorisme. Mereka difungsikan sebagai pendukung dan ‘penghibur’ bagi suami-suami mereka yang menjadi anggota MIT.

Bukan Surga Pemberian
Jika bukan ISIS yang memerintahkan perempuan untuk ikut turun gelanggang, lantas hal apa yang menceburkan perempuan dalam jurang kekerasan? Sejumlah studi mengerucut pada glorifikasi kisah-kisah perempuan pelaku bom bunuh diri di sejumlah negara sebagai biang keladinya. Berita-berita yang mengelu-elukan aksi-aksi bom bunuh diri yang dilakukan perempuan di Irak, Chechnya dan Palestina diduga kuat telah menggugah alam bawah sadar sebagian perempuan untuk membuktikan bahwa perempuan pun bisa berada di garis paling depan untuk urusan ‘jihad’.

Gelar syahidah atau perempuan yang mati dalam keadaan syahid rupanya juga telah lama
menjadi idaman perempuan, khususnya mereka yang telah berada di dalam lingkar kelompok radikal, baik secara langsung maupun tidak. Motif mendapatkan surga atas usaha sendiri –tak lagi bergantung pada suami— disebut-sebut menjadi salah satu alasan kuat dibalik keterlibatan perempuan dalam kelompok dan gerakan kekerasan. Dengan menjadi martir, perempuan-perempuan ini diyakinkan bahwa pintu surga telah terbuka lebar untuknya. Surga yang dapat mereka gapai sendiri, bukan ‘sisa’ dari suami.

Dalam “Why Do Indonesian Women Join Radical Groups?”, Lies Marcoes menyebut kelompok teroris menggunakan isu kesetaraan untuk meyakinkan perempuan agar tak lagi tinggal diam dijadikan jihadis kelas dua. Mereka dibuat percaya bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk berjuang demi agama. Hal ini, sebagaimana dijelaskan Didik Novi Rahmanto, M.H dalam “Keterlibatan Perempuan Dalam Aksi Kekerasani” ditunjukkan dengan memberi apresiasi dan kesempatan sekaligus dorongan –kalau bukan malah paksaan— kepada perempuan untuk ikut turun langsung ke medan perang.

Tears of Mother Nature (acrylic on paper by Dian Makruf)

Perempuan Juru Damai

Dalam “Further Tests of the Women and Peace Hypothesis” yang diterbitkan di International
Studies Quarterly 43 (1999), Mark Tessler bersama Jodi Nachtwey dan Audra Grant mendapati sejumlah hipotesis kuat soal hubungan positif antara perempuan dan perdamaian. Dibanding laki-laki, perempuan disimpulkan memiliki potensi yang lebih besar sebagai pembawa dan penjaga perdamaian. Hipotesis ini dibangun di atas tiga argument kuat berikut.

Pertama, perempuan disebut anti kekerasan dan mampu mencari solusi jika ada tindak kekerasan terjadi. Kemampuan ini berasal dari privilege mereka yang dibekali dengan moral keibuan. Moral ini berfungsi mendorong perempuan untuk merawat kehidupan. Dengan moral yang bersifat intrinsik ini, perempuan diyakini mampu untuk secara otomatis menemukan cara guna mengakhiri konflik, jika ada.

Argumen kedua, perempuan memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi juru damai.
Sebabnya, perempuan adalah kelompok yang paling dirugikan dari pecahnya konflik. Selain kemungkinan akan kehilangan orang-orang yang dicintai, konflik juga berdampak pada harga-harga kebutuhan pokok yang pasti akan melambung tinggi. Hal ini dipandang menyulitkan perempuan untuk merawat orang-orang yang mereka kasihi. Karenanya, perempuan lebih aware untuk segera menolak kekerasan.

Terakhir, Tessler, dkk., menyebut paham dan gerakan feminisme yang ada saat ini memiliki orientasi yang kuat terhadap perdamaian. Melalui konsep kesetaraan gender, perempuan diajak untuk secara sadar dan bertanggungjawab melawan segala bentuk ketidakadilan baik dalam bentuk hirarki, dominasi maupun eksplotasi. Nilai-nilai dasar ini mengusung semangat anti-militeristik, anti-kekerasan, dan anti-penindasan yang diakibatkan oleh ketidaksetaraan. Hasilnya, kita menyaksikan banyak aktivis perempuan yang juga ‘otomatis’ menjadi pejuang perdamaian.

Potensi perempuan untuk menjadi juru damai telah lama ditanggapi secara serius oleh sejumlah pihak. Dalam resolusi soal Perempuan, Perdamaian dan Keadilan pada tahun 2000 misalnya, PBB mengamanatkan agar melibatkan perempuan dalam proses pengambilan keputusan tentang perdamaian dan keamanan internasional di semua level. Amanat ini juga menyinggung soal perlindungan khusus kepada perempuan saat konflik serta menggunakan perspektif sensivitas gender di semua proses healing pasca konflik.

Data di atas sebaiknya ditanggapi sebagai pendorong positif untuk menegaskan posisi
perempuan dalam upaya membangun perdamaian. Karena surga, yang di dalamnya berlimpah kasih Tuhan, tak mungkin bisa digapai dengan kekerasan.

*Penulis merupakan Sekjen Jaringan Narasi Damai Nusantara

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *