The Handmaid’s Tale: Feminisme Sebagai Dasar Kehidupan

Saya sangat menyadari, bahwa sebagai laki-laki yang menulis soal feminisme, tentu tulisan ini agaknya akan menjadi kurang valid. Namun izinkan saya mencoba mengutarakan isi kepala saya berdasarkan serial TV yang berjudul The Handmaid’s Tale ini.

Tanpa bermaksud membocorkan secara menyeluruh isi ceritanya, saya akan persingkat dan menyinggung soal adegan di serialnya sebisa saya. Semuanya berawal ketika Amerika sedikit demi sedikit runtuh dan dikuasai oleh kelompok militan beragama, yang kemudian tentu segala hukum kebernegaraan, tata cara dan aspek-aspek kehidupan, dan tradisi kemudian berubah berlandaskan Alkitab; negara berlandaskan Syariat Beragama.

Diceritakan, tentu saja, ada kelompok yang “progresif”, yang melawan ini semua. Kelompok lesbian atau queer, perempuan terpelajar, perempuan kulit hitam, dan masih banyak lagi latar belakang perempuan yang berkumpul di jalan setelah mereka diberhentikan dari pekerjaannya, dikarenakan hukum yang berlaku di negara mereka melarang perempuan untuk bekerja, membaca, belajar, bahkan bersuara menyuarakan pendapatnya.

Fungsi perempuan “dikembalikan kepada fitrahnya” menjadi pabrik penghasil keturunan dan juga pengembangan di sektor-sektor domestik seperti memasak di dapur, membersihkan rumah, melayani suami, berkebun, berbelanja ke supermarket, dan lain-lain.

Sedangkan laki-laki mendapatkan porsi yang superior, seperti menjalankan pemerintahan dan ada juga yang menjadi penjaga keamanan sekaligus supir.

Kemudian soal Handmaid, atau bahasa kasarnya adalah budak seks, mereka adalah perempuan-perempuan progresif di kehidupan sebelum Gilead, nama baru untuk menggantikan Amerika yang telah runtuh. Oleh Gilead, mereka semua dianggap sebagai perempuan-perempuan kotor karena sudah melenceng dari fitrah mereka, maka dari itu mereka “dibersihkan” dari dosa-dosa mereka agar nantinya mereka bisa berguna sebagai mesin penghasil bayi untuk keluarga-keluarga bangsawan Gilead.

Beberapa hal di atas terdengar sangat familiar dan mungkin sudah secara terang-terangan diperjuangkan oleh kelompok agamis di kehidupan nyata. Kita bisa saja menampik bahwa itu tidak akan terjadi di kehidupan nyata, tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa ada kelompok-kelompok yang memimpikan hal-hal di atas untuk syahwat beragama mereka.

Kembali ke soal Handmaid, satu bulan sekali di masa subur mereka, mereka diwajibkan untuk melakukan “ritual”, atau kalau saya menyebutnya itu adalah pemerkosaan atas izin Tuhan. Sang istri duduk di atas tempat tidur sedangkan sang Handmaid berbaring di pangkuannya, lalu sang suami melakukan hubungan intim dengan sang Handmaid di depan mata istrinya sendiri. Untuk menambah kesan sakral, sebelumnya ayat Genesis 30:1 dikumandangkan oleh sang Suami sebelum menghampiri tempat tidur.

And when Rachel saw that she bare Jacob no children, Rachel envied her sister; and said unto Jacob, Give me children, or else I die. And Jacob’s anger was kindled against Rachel: and he said, Am I in God’s stead, who hath withheld from thee the fruit of the womb? And she said, Behold my maid Bilhah, go in unto her; and she shall bear upon my knees, that I may also have children by her. And she gave him Bilhah her handmaid to wife: and Jacob went in unto her. And Bilhah conceived, and bare Jacob a son. (Genesis 30:1)

Sumber gambar: wallpapercave.com/the-handmaids-tale-wallpapers

Lalu bagaimana feminisme berperan dalam sistem pemerintahan yang patriarkis dan bahkan tidak mempedulikan hak asasi warganya sama sekali?

Dalam serial TV ini, feminisme hadir dalam bentuk yang paling sederhana. Ketika sang Handmaid hamil setelah melalui ritual tadi, maka ia akan sedikit dianggap berharga karena dirinya sedang mengandung anak si pasangan suami istri bangsawan. Kesempatan kecil ini lah yang digunakan oleh para Handmaid. Keinginannya bisa dipenuhi, suaranya didengar, pendapatnya dipertimbangkan. Meskipun tentu, ruangnya sangat terbatas sekali dan hanya berlaku ketika mereka sedang mengandung bayi dan semasa menyusui saja, sampai akhirnya mereka keluar dari rumah majikannya dan dipindahkan ke rumah yang baru.

June atau dikenal dengan nama lain di Gilead sebagai Offred, karakter utama dalam serial ini, ditempatkan di rumah keluarga Waterford, dan singkat cerita dirinya hamil. Sehingga dirinya agak leluasa untuk merencanakan pelarian diri. Dia bergabung dengan Mayday, sebuah gerakan pembelot rahasia, secara diam-diam, dan dalam proses yang sangat lama akhirnya penantian itu membuahkan hasil. Dirinya mendapatkan sekumpulan surat-surat yang ditulis tangan oleh banyak Handmaid. Suara – suara yang tidak terdengar di permukaan. Nama – nama yang dilarang diucapkan dikehidupan sehari – hari mereka. June bertekad untuk membawa surat-surat tersebut keluar dari Gilead agar banyak orang yang tahu bagaimana sebenarnya kondisi para Handmaid ini.

Juga berkat interaksi dengan June pada masa kehamilannya, Serena sang majikan mulai merasa resah dan takut jika anak perempuannya yang baru lahir itu harus tumbuh besar di lingkungan yang ia rasakan sendiri tidak memberikan ruang bagi perempuan untuk tumbuh, lingkungan yang mendukung kekerasan terhadap perempuan yang tidak patuh, bahkan dilarang membaca Alkitab sekalipun.

“Bagaimana anak perempuanmu bisa mengenal Tuhan jika mereka tidak diizinkan membaca kalimat-kalimat-Nya?” tanya June/Offred kepada majikannya itu.

Dalam serial ini, feminisme hadir dalam bentuk-bentuk kebutuhan dasar kehidupan perempuan. Di saat rezim sebuah negara yang tidak memberikan perempuan hak berbicara, kehamilan bisa menjadikan perempuan didengar suaranya. Sesederhana kekhawatiran seorang ibu atas tumbuh kembang anaknya meskipun padahal sang ibu lah yang ikut serta dalam menciptakan lingkungan tersebut. Feminisme hadir dalam bentuk bisik – bisik ketika masyarakat tidak mengharapkan perempuan untuk bersuara. Feminisme adalah awal akan kebebasan, tidak rumit, tidak sulit. Feminisme adalah hak mendasar setiap manusia.

Wisesa Wirayuda

Wisesa Wirayuda adalah kontributor website Perempuan Berbagi dan manajer operasional Sri Berbagi. "Keluarga bukanlah mereka yang memiliki DNA yang sama denganmu, tapi mereka yang berani menerima apa adanya dirimu, dan tetap bangga pada dirimu."

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *