The Sun The Moon & The Hurricane

Sebuah Upaya Merayakan Kemanusiaan

Tanpa perlu berpanjang kata, akan saya kutipkan apa yang dituliskan oleh seseorang tentang film ini, “(Film ini memang) film festival. Bakalan berdarah-darah dan harus punya waktu khusus nih buat nonton film ini. Sinematografi yang khas film festival. Pantai, panoramik, montage pol-polan, adegan komunikasi seksual yang digambarkan secara eksplisit, dan yang terpenting dan menjadi stereotype film festival di Indonesia, too much “poetry”.”[1]

Hal ini terasa benar adanya karena para tokoh utama banyak bermonolog, bicara pada diri sendiri untuk mempertanyakan berbagai hal terkait keberadaannya sebagai manusia. Namun semua pertanyaan itu mendukung pencarian jati diri para tokoh utama. Selayaknya cermin kehidupan, ada yang menemukan dan menghidupi, serta menemukan dan mengingkari. Semua ada maknanya masing-masing dan menghantarkan pada penemuan diri yang sejati.

Persahabatan yang sangat akrab antara dua lelaki muda, Kris dan Rain, segera terasa bukan persahabatan yang biasa. Mereka lebih dari sahabat, ada kedekatan yang intim, ada ketergantungan emosi dan kesalingan merawat antar mereka. Ada eksklusivitas dan rasa memiliki yang intens, serta dorongan agresif untuk menaklukkan yang sering muncul pada relasi heteroseksual yang abusif.

Pribadi Rain dan Kris sangat bertolak belakang. Rain lebih sensitif dan reflektif, banyak menerima dan memaklumi, merawat dan lembut, stereotype feminin. Sedangkan Kris berperilaku sangat agresif – hampir kasar, posesif, dan menguasai, stereotype maskulin. Kris yang sangat lelaki ini memiliki perempuan sebagai kekasih, sewajar yang biasa, tanpa perlu merasa terganggu atau heran dengan persahabatannya yang sangat akrab dengah Rain. Sebaliknya Rain tampak seolah di bawah sadarnya memahami dan menerima dirinya sebagaimana keberadaannya dan dirasakannya. Rain memilihkan baju untuk Kris yang akan pergi berkencan – baju yang dipilih dengan asal-asalan karena iseng, lalu Kris menurut saja dengan pilihan itu. Rain dengan setia menunggui Kris yang pergi kencan dengan kekasih. Kris secara emosional dan fisik tergantung pada Rain. Rain mendamba Kris secara intim nyaris erotik. Situasi itu tidak membuat mereka serta merta menyadari bahwa mereka lebih dari sahabat. Ada banyak perilaku lain yang intim untuk menunjukkan pada kita bahwa mereka berpeluang sangat besar untuk menjadi sepasang kekasih. Tetapi realita yang ingin ditunjukkan memang sepahit-pahitnya yang nyata dalam kehidupan. Ada sebuah situasi Kris dan Rain tak lagi bisa menahan diri, mereka saling berciuman, dan Kris tidak siap. Kris menghilang.

Waktu terus berjalan, berjumpa pisah dengan seseorang, keberhasilan dalam kerja, serta mapan dalam hidup tampaknya menjadi dinamika Rain. Tetiba ia berpapasan dengan Kris, seolah membuka luka yang ternyata masih basah.

Dalam dinamika hidup Rain, tampak berbagai adegan singkat yang merupakan simbol pergulatan hidup. Sebuah adegan pendek memperlihatkan sebuah buku tentang bunuh diri. Hal ini bukan tidak masuk akal. Para insan LGBTIQ yang masih bergulat dengan penerimaan diri dan lingkungan, atau bahkan ditolak oleh orang-orang terdekat, misalnya keluarga, sering mengalami dorongan untuk bunuh diri. Dua dari lima LGBTIQ muda kerap berpikir untuk bunuh diri. Satu dari tiga di antara mereka yang berpikir untuk bunuh diri itu benar-benar melakukannya.[2] Buku itu melukiskan pribadi Rain yang mencari kedalaman dan menerima diri secara rasional melalui berbagai upaya mencari informasi dan pengetahuan yang benar.

Adegan lain memperlihatkan hubungan seksual antara Rain dengan Will, yang liar dan penuh hasrat, alih-alih bernuansa romantis. Dalam hubungan itu, beberapa kali tampak Rain mengupayakan kontak mata atau sentuhan sensual yang intim. Namun Will hanya berhasrat pada pemenuhan kebutuhan dan kepuasan seksual. Saya sangat menghargai film ini karena film ini peka untuk memperlihatkan upaya relasi seksual yang sehat dan menggunakan pengaman/ kondom.

Beberapa kali pula Rain bertelepon dengan Oma, saling berkirim kabar dan tampak peduli satu sama lain lewat dialog di antara keduanya. Saya mengira bahwa kedekatan ini juga berpengaruh pada proses penerimaan diri Rain dan bagaimana ia memiliki konsep untuk bahagia dalam hidupnya. Rain memiliki pengalaman dicintai tanpa syarat oleh keluarga, omanya. Hal ini membuat dirinya kuat dan siap untuk mencintai dengan bebas lepas dan tanpa pamrih.

Selanjutnya film bergerak lebih cepat dengan perjumpaan Kris dan Rain dalam kerja bersama, serta perjumpaan dengan Stella, yang adalah istri Kris dan sekaligus teman lama mereka di SMA. Tidak perlu waktu lama untuk memperlihatkan bahwa pernikahan mereka tidak harmonis. Stella selalu berwajah sendu dan serius, serta Kris yang acuh tak acuh memperlihatkan bahwa mereka pasangan yang tidak setara dalam mencintai satu sama lain. Stella sangat berupaya untuk membuat pernikahan mereka berhasil. Cara Stella berdoa membuat saya paham mengapa ia demikian. Stella berdoa Rosario, sebuah doa kontemplasi khas penganut agama Kristen Katolik Roma. Doa ini tentang ringkasan kabar gembira-kisah hidup dan peristiwa penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Para penganut Kristen Katolik Roma sangat meyakini bahwa pernikahan adalah persatuan dua manusia lelaki dan perempuan oleh Tuhan sekali seumur hidup dan tidak bisa diceraikan oleh manusia (Matius 19:6)[3]. Perceraian bagi penganut Kristen Katolik Roma yang taat dan soleh adalah tabu. Iman, harapan dan kasih adalah pijakan bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan. Agama yang hanya mengamini pernikahan antara laki-laki dan perempuan pasti tidak memiliki tempat untuk pernikahan insan berjenis kelamin sama. Pernikahan yang dikenal dalam Kristen Katolik Roma hanya pernikahan heteroseksual.

Pernikahan Stella dan Kris yang acuh tak acuh ini tidak dibumbui KDRT. Perselisihan dibicarakan dengan emosi yang intens. Pasangan ini tidak memiliki jalan ke luar, hidup dalam kebuntuan, dan tidak punya rencana masa depan yang jelas. Adalah sebuah nilai agama yang dianut, memperlihatkan betapa Stella sangat utopis dan selalu penuh pengharapan. Sedangkan Kris menghidupi pernikahan dalam rasa bimbang berkepanjangan. Kemunculan Rain seolah membuat rasa bimbang Kris mencapai titik nadir dan Stella terbangun dari utopianya yang panjang. Keduanya lalu berserah diri pada realita yang pahit.

Namun menariknya bagi saya adalah bahwa film ini menawarkan nilai tentang cinta yang membebaskan. Sebuah dialog intens yang sarat emosi antara Kris dan Stella membebaskan keduanya untuk melanjutkan hidup dengan harapan yang lebih baik untuk masing-masing. Kris berharap Stella akan menemukan pria lain yang akan mencintainya secara pantas. Stella berharap yang sama untuk Kris, bahwa Kris juga akan lebih bahagia dengan lelaki yang ia cintai. Realita mencintai yang sangat pahit namun bukan kesia-siaan. Keduanya belajar untuk mendahulukan kebahagiaan masing-masing sebagai perwujudan cinta yang sesungguhnya, memerdekakan dan tanpa pamrih.

Film ini sungguh sebuah film yang pantas diacungi jempol. Para tokoh tidak terjebak oleh stereotype bahwa pemeran harus gemulai, ngondek, atau menonjolkan sisi feminin secara berlebihan. Beberapa isu kritis diungkapkan dalam adegan dengan simbol yang cerdas. Nilai agama tertentu disajikan dengan mulus, tidak menyolok karena dilarutkan dalam keseharian. Perselisihan dan perbedaan pendapat dalam rumah tangga tidak harus selalu diungkapkan dengan kekerasan. Relasi seksual dan intim disajikan dalam berbagai variasi dan dinamika. Relasi seksual abusif dan tidak berdasar keintiman personal menjadi opsi untuk menunjukkan bahwa tidak ada masa depan dalam relasi semacam ini. Film ini memperlihatkan bahwa insan LGBTIQ memiliki hasrat dan cita-cita yang sewajarnya manusia, ingin mencintai dan memiliki keluarga yang saling mendukung. Realita para insan LGBTIQ yang menikah di luar kehendak dan kesadaran bebasnya diupayasajikan dengan senyata-nyatanya. Riset untuk mendalami isu dan empati yang besar sangat mendukung keberhasilan film ini.

Bagi para insan LGBT, keberpihakan film ini sungguh menumbuhkan rasa optimis dan harapan yang besar. Beberapa penonton seolah menonton diri sendiri, merasa terbantu, didukung, dan didengarkan. Khusus bagi para insan LGBTIQ belia, film ini secara konkret menyapa mereka. Kisah film ini mengajak para belia ini untuk secara sadar menempa diri, tidak terpaku pada anggapan orang lain, dan terus berupaya menyiapkan masa depan diri yang baik.

Dari pribadi Rain, para belia diajak untuk siap mencintai dunia ini sebagaimana adanya dan berupaya membuatnya lebih baik. Konsep kebahagiaan yang diucapkan Rain bisa menjadi tawaran nilai hidup. Kebahagiaan tidak harus datang dari orang lain. Diri sendiri bisa menjadi sumber kebahagiaan. Kunci kebahagiaan adalah bersyukur untuk setiap anugerah hidup yang diterima.  Berkaca pada Rain, para belia diajak percaya bahwa menjadi berbeda adalah baik adanya, seindah dan sebaik-baiknya tujuan saya, kamu, kita, dan mereka diciptakan beserta alam semesta.

Hidup Kris penuh pergulatan, sehingga memang tidak mudah berkesadaran bahwa ada yang berbeda dari dirinya dan siapa yang dicintai tidak sama dengan kebanyakan orang. Perlu keberanian untuk tidak hidup dalam persembunyian. Perlu dukungan keluarga atau orang dekat yang dipercaya, dan ruang aman untuk mengembangkan diri. Dalam film ini situasi yang mendukung itu tampaknya tidak dialami oleh Kris. Kehadiran Stella yang membawa ketenangan dalam diri Kris seolah menjawab tuntutan kewajaran yang diminta kehidupan.

Kisah hidup berkeluarga Kris dan Stella menunjukkan betapa pentingnya tumbuh sebagai pribadi yang penuh pertimbangan, terutama saat membuat keputusan yang terkait dengan masa depan orang lain, seperti membangun keluarga. Tidak sedikit kisah hidup seperti Stella dan Kris terjadi secara nyata. Juga ada pernikahan heteroseksual pada pasangan yang salah satunya adalah insan LGBTIQ yang tetap utuh. Semua kisah itu tentu saja penuh perjuangan dan pergulatan. Setiap manusia usia produktif menerima tuntutan masyarakat untuk menikah dan punya anak, serta hidup dalam norma yang dianggap normal dan wajar, yaitu heteronormativitas. Insan LGBTIQ perlu membuka wawasan diri  bahwa tuntutan masyarakat tidak serta merta selalu merupakan kebenaran absolut. Kita perlu membekali diri dengan berbagai pengetahuan yang dapat menjadi alternatif cara bertindak. Bahkan jika perlu, pengetahuan itu bisa menjadi cara kita bernegosiasi dan membuka diri kepada keluarga dan orang terdekat.

Perilaku yang bisa ditawarkan adalah sebuah perspektif bahwa cinta tidak memandang jenis kelamin, we love the person not the gender. Cinta sejati adalah cinta yang membebaskan dan saling mendahulukan kemanusiaan masing-masing insan yang dicintai. Komitmen untuk berkeluarga idealnya dibangun atas dasar pengenalan atas diri masing-masing insan, jujur dan terbuka, serta sadar atas komitmen yang dipilih dan konsekuensi yang mengikutinya. Sifat seksualitas yang cair, kedewasaan dan kesadaran tiap insan, dan penghormatan setara atas keberadaan diri masing-masing insan memungkinan semua itu terjadi.

It Gets Better[4], sebuah misi untuk mengupayakan kehidupan yang lebih ramah dan aman untuk insan LGBTIQ marak berkembang di dunia. Berbagai iklan dukungan, film pendek, lagu, literasi lisan dan tulisan, serta berbagai ekspresi dibuat untuk membangun ruang aman yang mendunia bagi para insan LGBTIQ ini. Indonesia bisa memiliki semangat dan kepedulian yang sama juga. Pendekatan budaya dan seni adalah sebuah cara strategis yang jitu untuk mengajak masyarakat mengenal insan LGBTIQ. Budaya tradisi Indonesia jika digali lebih mendalam memiliki ruang-ruang aman dan berterima bagi para insan ini. Film ini bisa menjadi yang pertama untuk memulai gerakan “Yang Lebih Baik adalah Mungkin” ini.

Stella dan Kris telah bersepakat saling membebaskan demi kebahagiaan masing-masing di masa depan. Rain selalu optimis berupaya menciptakan kebahagiaan. Apakah mereka lalu lebih berbahagia? Para penonton hanya bisa melihat senyum Rain yang merekah entah kepada siapa.

 

“Perfect love casts out fear / Cinta sejati menyingkirkan rasa takut

Where there is love there are no demands, / Bila ada cinta maka tidak ada keharusan,

no expectations, no dependency. / tidak ada tuntutan, tidak ada ketergantungan.

I do not demand that you make me happy; / Saya tidak menuntut Anda untuk berbuat sesuatu demi kebahagiaan saya;

my happiness does not lie in you. / kebahagiaan saya tidak terletak dalam diri Anda.

If you were to leave me, / Bila suatu saat Anda meninggalkan saya,

I will not feel sorry for myself; / saya tidak akan menyesali diri saya;

I enjoy your company immensely, but I do not cling.” / saya sangat menikmati kebersamaan dengan Anda, tetapi saya tidak menggantungkan diri saya kepada Anda.

~ Anthony de Mello, Awareness ~ / Anthony de Mello, Kesadaran

Sumber:

https://shiraai.files.wordpress.com/2015/03/bw1ibrcceaasx87.jpg

https://imamocean.wordpress.com/2015/04/03/film-the-sun-the-moon-the-hurricane-2014/

http://www.helloasia.com.au/reviews/film/the-sun-the-moon-and-the-hurricane-indonesia-2014/

https://www.suarakita.org/2017/07/26879

http://www.kompasiana.com/winwannur/the-sun-the-moon-the-hurricane-film-indonesia-berkualitas-dengan-tema-kontroversial_559d3c332d7a61982983fa49

http://www.suarakita.org/2017/09/27360/

http://www.itgetsbetter.org/pages/about-it-gets-better-project/

 

[1]Film The Sun, The Moon & The Hurricane (2014)

[2]10 September Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

[3] Matius 19:6  “Demikianlah mereka bulan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

[4]It Gets Better Project

Penulis: Pudji Tursana

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *