UPAYA-UPAYA SEDERHANA MERAWAT BUMI

Penulis: Febbry Bhirink

Earth Hour Tangerang dan Scientia Square Park memperingati momentum Hari Bumi 22 April. Acara peringatan itu dilaksanakan pada Sabtu 27 April 2019. Mereka mengusung tema “PROTECT OUR SPECIES” dengan konsep “piknik hijau”. Disebut piknik hijau, karena acara ini diadakan di alam hijau, yaitu di taman rekreasi Scientia Square Park, Gading Serpong, Tangerang Selatan. Dalam acara ini, diputar film Sexy Killers. Usai nonton bareng, mereka mendiskusikannya dengan dua orang narasumber.

Siva Yolla Mardiana, Ketua Koordinator Earth Hour Tangerang menyampaikan, kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan. Komunitas ini merupakan kumpulan orang-orang yang peduli pada lingkungan, biasanya melakukan aksi-aksi edukatif kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, terutama untuk menghemat energi.

Earth Hour Tangerang memilih Sexy Killers sebagai medium diskusi karena mereka ingin membuka perspektif orang-orang.

“Khususnya para peserta undangan kami. Supaya mereka tahu bahwa kita sebagai konsumen harus lebih pintar menjaga lingkungan. Karena (kesehatan-red)lingkungan itu kan berawal dari diri kita sendiri,” katanya.

Komunitas Earth Hour Tangerang membuat kampanye bertajuk “Beli Yang Baik” untuk mendorong konsumen memilih produk apa yang harus mereka beli.

“Sebelum beli, lalu dipakai, dan sesudahnya nanti seperti apa. Contoh kecilnya yaitu sedotan kayu atau stainles. Itu lebih baik daripada plastik. Beli yang alami dan eco-label,” jelas mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Sultan Agung Banten ini.

Pada momentum Hari Bumi, Siva menyarankan tiap pribadi agar mulai mengurangi sampah plastik. Menurutnya, itu salah satu perhatian utama Earth Hour Tangerang.

“Kurangi sampah plastik, bawa kotak bekal makanan, botol tumbler, sedotan sustainable seperti stainless, semua yang tidak sekali pakai,” terangnya.

Selain itu, tak kalah penting menurut Siva, tiap-tiap individu mesti mengurangi energi. Misalnya, menggunakan arus listrik seperlunya.

“Hal-hal sederhana seperti mencabut stop kontak yang sudah selesai kita pakai. Itu kan sebenarnya energinya masih terbuang kan. Jadi lebih baik dicabut setelah selesai dipakai. Sesuai film yang kita tonton tadi aja. Kita harus mulai mengurangi pemakaian energi-energi yang tidak terbaharukan menjadi energi yang terbaharukan,”

Aksi-aksi sederhana lain seperti mengurangi pemakaian AC, menukarnya dengan udara alami dari luar ruangan, juga menurut Siva sangat bisa mulai dipraktekkan.

Gagasan ini tidak hanya dilakukan oleh Siva saja. Rekan-rekannya sesama relawan di Earth Hour Tangerang, juga terbiasa melakukan hal yang sama. Nabila, mahasiswa Teknik Industri Universitas Guna Darma, mengaku sudah lama mengurangi sampah plastik, membawa sedotan stainless dan tumbler sendiri.

Ada juga Karina, mahasiswa yang sedang kuliah di jurusan psikologi Universitas Taruma Negara. Ia mengaku awalnya kurang punya kesadaran mengenai kebiasaan aksi bebas sampah plastik ini. Namun perlahan ia mulai turut terbiasa seperti relawan lainnya, sebab organisasi mereka memang mewajibkan tiap anggota atau relawan untuk bebas sampah plastik.

“Awalnya sih males banget ya, karena kan pengennya simpel aja, cuma lama-lama jadi sadar. Dalam satu hari aja bisa menghabiskan empat botol sekali pakai. Lalu saya bayangkan, dalam seminggu sudah berapa botol yang saya pakai dan buang?” jelas Karina.
Bila hendak pergi berbelanja ke supermarket, Karina juga selalu membawa tas belanja agar tidak memakai kantong plastik sekali pakai.

Selain menggalang kolektif untuk bergerak di isu lingkungan, Siva berkata bahwa Earth Hour Tangerang  terbuka bekerja bersama komunitas-komunitas pegiat isu perempuan.

Perempuan, menurut Siva, adalah yang menaungi dan merawat lingkungan. Dalam agenda-agenda Earth Hour Tangerang, mereka selalu berupaya melibatkan sebanyak mungkin perempuan untuk bertukar gagasan dan aksi.

“Ketua koordinator Earth Hour Tangerang, yaitu saya, adalah perempuan. Moderator dan salah satu narasumber yang kami pilih untuk memfasilitasi diskusi hari ini juga perempuan. Jadi kami sangat mengedepankan itu,” tegasnya.

Jelang pukul sepuluh malam, lampu-lampu taman Scientia Square Park satu-persatu sudah mulai padam, pertanda acara telah selesai. Para panitia mulai membenahi perlengkapan mereka. Nyaris tak ada sampah terlihat selama acara berlangsung, begitupun usai acara. Hal ini dikarenakan seluruh peserta membawa botol minum dan kotak makan mereka masing-masing.

Gading Serpong, 28 April 2019

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *